Jakarta, 28 Januari 2019. Pada akhir pekan kemarin, Jumat (25/01/2019), Ketua DPR RI Bambang Soesatyo dan Anggota DPR Komisi II dari Fraksi Nasdem, Ahmad Sahroni melakukan kunjungan ke Markas Besar Angkatan Laut. Kunjungan DPR ini diterima langsung oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana TNI Siwi Sukma Adji. Bambang Soesatyo memandang bahwa wilayah perairan Indonesia dengan luas lautan mencapai 3,25 juta km yang berarti 70 persen terdiri dari perairan tidak boleh dianggap remeh. Karena itu, keberadaan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL) yang didukung alat utama sistem pertahanan (Alutsista) harus senantiasa diperkuat. Hal ini sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. “Tidak hanya melakukan pembangunan yang land-oriented, Presiden Jokowi juga memperkuat sea-oriented. Terbaru, pemerintah sudah meresmikan dermaga TNI Angkatan Laut Tawiri Ambon. TNI-AL juga belum lama ini menerima tambahan kekuatan baru berupa dua Kapal Angkatan Laut yang diproduksi di dalam negeri," ujar Bamsoet, sapaan akrabnya, usai bertemu Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, di Jakarta, Jumat (25/1/2019). Bamsoet juga mengingatkan TNI-AL agar senantiasa memperkuat early warning system (EWS), sehingga bisa meminimalisir potensi pelanggaran hukum di perairan Indonesia. Seperti illegal fishing, pembajakan, sabotase, penyelundupan, maupun mengantisipasi kegiatan spionase. Kerja sama TNI-AL dengan berbagai kementerian dan instansi lainnya harus selalu diperkuat. “Seperti yang sudah terlihat pada kerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam memberantas illegal fishing, maupun dengan Badan Narkotika Nasional dan Bea Cukai dalam memberantas penyelundupan Narkoba. Jika semua lembaga negara bisa terkoordinasi dengan baik, berbagai masalah apapun akan bisa dihadapi secara seksama," terang Bamsoet. Tak hanya itu, Bamsoet yang merupakan warga kehormatan TNI-AL ini juga mengingatkan agar kerja sama dengan tentara angkatan laut dari berbagai negara lain juga harus diperkuat. Selain untuk meningkatkan kemampuan tempur prajurit, kerja sama internasional juga penting untuk saling tukar informasi dan sharing ilmu pengetahuan. “TNI-AL perlu memaksimalkan peranannya di sektor leading of maritime diplomacy. Peran aktif TNI-AL dalam menjalin kerja sama dengan angkatan laut negara lain, maupun kehadiran TNI-AL di berbagai forum internasional harus memperkuat kebijakan politik luar negeri pemerintah. Khususnya, dalam menegaskan garis batas wilayah kedaulatan perairan Indonesia," jelas Bamsoet. Bagi ketua DPR, penegasan garis batas sangat penting. Mengingat konflik Laut Cina Selatan yang tidak kunjung selesai menyebabkan berbagai potensi masalah hukum yang dihadapi Indonesia maupun negara-negara Asia Tenggara lainnya. Semisal, seperti terjadi di perairan bagian utara Kepulauan Natuna. Tiongkok sempat mengklaim wilayah perairan bagian utara Kepulauan Natuna masuk dalam wilayah perairan mereka. “Sementara, negara-negara sekitar Asia Tenggara sudah sejak dulu mengakui wilayah tersebut merupakan kedaulatan Indonesia. TNI-AL melalui fungsi diplomasi maritim, perlu untuk memperkuat penegasan yang sudah disampaikan pemerintah. Jangan ragu-ragu menindak kapal maupun nelayan asing yang mengklaim dan masuk seenaknya ke wilayah perairan Indonesia," pungkas Bamsoet. [] Tulisan ini juga dimuat di situs resmi DPR RI.