TAMBOLAKA (6 April): Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang), Rachmad Gobel melakukan panen padi dengan pupuk non-subsidi. Gobel yang bekerja sama dengan PT Pupuk Kaltim dan sejumlah pihak menginisiasi program pertanian dengan pupuk tanpa subsidi di dua lokasi yang berbeda yakni Gorontalo dan di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam panen di Kecamatan Wewewa Timur, Sumba Barat Daya (SBD), NTT, Senin (5/4), hadir beberapa anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem yakni anggota Komisi IX DPR RI, Ratu Ngadu Bona Wulla, anggota Komisi IV DPR RI, Julie Sutrisno, dan anggota Komisi II DPR RI, Yakobus Jacki Uly. Selain itu hadir pula Wakil Bupati SBD, Marthen Christian Taka, Ketua DPD NasDem SBD, Markus Dairo Talu, Direktur Keuangan dan Umum Pupuk Kaltim, Qomaruzzaman dan Direktur Human Capital Bulog, Purnomo Sinar Hadi. Seusai melakukan panen perdana padi di lahan milik Kelompok Ndara Tana-Kecamatan Wewewa Timur, Gobel menegaskan dukungannya untuk para petani di SBD dan NTT secara umum yang dinilainya telah mendukung ekonomi bangsa. Untuk itu Gobel meminta masyarakat untuk menghargai kerja petani dan berusaha agar petani tidak mengeluh lagi. "Petani membuat masyarakat lainnya termasuk saya punya martabat karena mampu menjaga ketahanan pangan dalam negeri," ujar Gobel. Walaupun begitu, tambah Legislator NasDem itu, dalam pengembangan pertanian di masa depan tidak hanya dengan melahirkan program, tapi harus dibarengi dengan kerja secara serius. Apalagi Gobel menilai tanah di Sumba dan NTT cukup subur dan jika dikelola dengan baik akan mendatangkan banyak keuntungan untuk masyarakat. “Pertanian di Sumba ini akan berhasil kalau kita kerja keras dan serius. Saya bersama kaka Julie di Komisi IV DPR RI tentu terus berjuang untuk pertanian karena pertanian itu fondasi ekonomi Indonesia,†katanya. Rahmad Gobel berharap kerja petani tidak berhenti sampai di situ, tapi terus dilanjutkan dengan pengembangan lebih luas lagi agar mampu memberikan banyak manfaat buat petani sendiri. “Saya minta petani untuk mulai mengembangkan pupuk nonsubsidi sebagai bagian mendukung program pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan. Karena hasil pupuk nonsubsidi tidak kalah jauh dari pupuk subsidi,†ungkapnya. Dalam kesempatan panen raya tersebut, Gobel menyatakan, setiap berdialog dengan petani ia selalu menerima keluhan yang sama. "Saat musim tanam petani kesulitan pupuk subsidi dan bibit. Jika ada, harganya sudah mahal," katanya. Karena itu ia mencoba mencari solusi dengan menggandeng Pupuk Kaltim melalui pertanian dengan pupuk nonsubsidi. "Dengan hasil yang hampir dua kali lipat maka ini menguntungkan petani," katanya. Keluhan lainnya, kata Gobel, di saat musim panen harga gabah jatuh. Oleh karenanya Gobel mengajak Bulog untuk bisa menyerap gabah petani agar harga terjaga. Namun untuk menaikkan posisi petani dan memudahkan pengadaan pupuk dan bibit serta penjualan gabah, Gobel meminta petani untuk membentuk koperasi. "Saya bantu modal awal Rp100 juta," katanya disambut tepuk tangan petani. Ketua Kelompok Tani Dari Tanah, Andreas Umbu Wosa mengatakan program itu mencakup lahan seluas 3 ha. "Hasilnya bagus. Dengan pupuk subsidi cuma menghasilkan sekitar 5 ton per hektare, tapi dengan pupuk non-subsidi menjadi 9,4 ton per hektare," katanya. Acara panen di tengah sawah itu berlangsung dalam suasana gerimis. RO/*)