LEWOLEBA (13 April): Desa Lamaau di Kecamatan Ile Ape Timur, Lembata, menjadi saksi betapa indahnya keberagaman di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (11-12/4/2026), ribuan umat berkumpul dalam acara Silaturahmi dan Halal Bihalal Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) se-Kabupaten Lembata.Acara yang dihadiri sekitar 1.500 orang ini bukan sekadar seremoni keagamaan biasa. Di balik panggung yang megah dan zikir yang berkumandang, terselip pesan kuat tentang toleransi yang mengakar. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatan aktif umat lintas agama dalam menyukseskan acara tersebut.Salah satu momen yang paling menggetarkan hati adalah saat Mars BKMT dinyanyikan dengan lantang oleh Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Tokojaeng. "Mars itu bukan sekadar kamuflase, tetapi merupakan jalinan kekeluargaan yang nyata ditunjukkan oleh masyarakat dan pemerintah desa di Ile Ape Timur," tegas Julie Sutrisno Laiskodat dalam keterangannya, Minggu, (12/4/2026). Legislator NasDem dari Dapil NTT I yang meliputi Pulau Lembata, Pulau Alor, dan Pulau Flores, menyelenggarakan kegiatan itu selama bulan Ramadan 2026, tepatnya setiap Senin di Pasar Walangsawa, Desa Balauring, Kecamatan Omesuri, dan setiap Kamis di Pasar Wairiang, Desa Umaleu, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata ini juga menambahkan bahwa potret di Lembata adalah wajah asli Indonesia yang harus dirawat demi menjaga modal sosial bangsa.Toleransi yang Hidup dalam TradisiKepala Desa Lamaau, Muslimin Bala, mengungkapkan bahwa persiapan kegiatan ini melibatkan warga dari tiga desa, yakni Desa Aulesa, Desa Bao Lali Duli, dan Desa Lamaau sendiri. Menariknya, semangat gotong royong ini melintasi batas keyakinan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.Dampak Nyata bagi Ekonomi DesaKegiatan yang dibuka oleh Camat Ile Ape Timur, Niko Watun, ini diikuti oleh ribuan peserta resmi dari delapan kecamatan. Selama kegiatan berlangsung, para peserta menginap di rumah-rumah warga di Desa Lamaau dan Bao Lali Duli. Kondisi ini memberikan dampak ekonomi instan bagi masyarakat setempat. Perputaran uang melalui UMKM dan penyediaan penginapan menjadi berkah tersendiri bagi ekonomi desa, mengubah acara silaturahmi menjadi motor penggerak kesejahteraan warga.Pancasila sebagai 'Penyebut' KeberagamanWakil Bupati Lembata, Muhamad Nasir, yang hadir mewakili pemerintah daerah, memberikan analogi filosofis yang mendalam mengenai persatuan. Ia mengibaratkan bangsa ini seperti soal matematika.“Seperti dalam matematika, pecahan yang berbeda hanya bisa dijumlahkan jika penyebutnya sama. Dalam kehidupan berbangsa, penyebut itu adalah Pancasila,” ujar Nasir. Ia juga mengajak masyarakat memaknai semangat Idulfitri dan Paskah yang berdekatan sebagai simbol transformasi menuju pembaruan dan kemajuan.Rangkaian Kegiatan SosialKetua BKMT Kabupaten Lembata, Hj. Nurmila Nasir, menjelaskan bahwa agenda tahunan ini tidak hanya diisi dengan silaturahmi. Sejak 11 April, berbagai kegiatan telah dilakukan, mulai dari zikir bersama, lomba-lomba antar-delegasi, hingga aksi nyata di bidang kesehatan."Kami juga melakukan bakti sosial dengan memberikan vitamin sebagai upaya pengetasan stunting di wilayah ini," jelas Nurmila. Ia juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kementerian Agama Lembata dan Julie Laiskodat atas dukungan penuh terhadap kesuksesan acara ini.Melalui acara ini, Desa Lamaau telah membuktikan diri bukan hanya sebagai tuan rumah, tetapi sebagai ruang harapan. Dari desa kecil di kaki gunung ini, pesan tentang persaudaraan sejati terpancar untuk menginspirasi Indonesia. (Minarni/*)