Karena Berbicara Tak Sekadar Bicara

23 APRIL 2016, 02:08:46 WIB 3 MENIT BACA 1017

Jakarta - Media Center Fraksi NasDem baru saja melaksanakan workshop Public Speaking ke-3 yang menghadirkan coach dari Metro TV Bapak Pope di Ruang Rapat Fraksi, Jumat (22/04). Berbeda dengan workshop sebelumnya, pelatihan yang diberikan kali ini lebih berkaitan dengan teknik-teknik khusus untuk menunjang seorang anggota mampu berbicara dengan baik, tenang, dan percaya diri di ruang manapun, entah itu ruang sidang, ruang publik, atau pun media. Ia tidak banyak memberikan materi yang sifatnya teoritis.

Workshop tersebut dilakukan secara bertahap dan tidak melibatkan banyak peserta. Untuk tahap pertama dari 36 Anggota Fraksi NasDem, hanya 5 Anggota yang dilatih oleh Pak Pope secara personal. Tujuannya adalah untuk menciptakan intensitas di antara peserta dengan pelatihnya. Mereka ada Anarulita, Ari Yusnita, Slamet Junaidi, Ali Mahir, dan Syarief Abdullah Alkadrie.

Bagi Anarulita pelatihan ini membawanya pada pengetahuan baru mengenai gesture yang tepat di depan kamera. Kebiasaannya yang seringkali menampilkan gesture yang tidak tepat seperti membungkuk dan mimik muka datar berubah setelah dilatih oleh Pak Pope.

Hal serupa dialami oleh Ari Yusnita asal Kalimantan Utara. Pengalaman barunya sebagai Anggota DPR membuatnya harus meng-upgrade komunikasi politiknya di depan umum maupun di depan media. Terkhusus untuk Ari, Pak Pope melatihnya dengan mengisi jeda berpikir dengan hembusan nafas. Selain itu, pengaturan intonasi juga diajarinya supaya penekanan kata dan kalimat tepat digunakan dalam tipe wawancara apapun terutama talkshow.

Pengalaman berbeda ditunjukan oleh Syarief  Abdullah Alkadrie. Ia begitu fasih dengan situasi dan kondisi wawancara ataupun debat konfrontasi di depan media. Hal ini kemungkinan ditunjang dengan pengalamannya yang sangat luas sebagai politisi dari Kalimantan Barat. Namun demikian, ia terhitung tidak percaya diri dengan logat dan aksen melayu Pontianaknya. Menurutnya hal tersebut sebuah ganjalan baginya untuk bisa tampil sempurna di depan khalayak umum. Akan tetapi ia diingatkan oleh coach Pope bahwa aksen dan logat dari masing-masing individu itu penting untuk menunjukan kekhasan masing-masing.

Rasa antusias ditunjukan oleh Slamet Junaidi dan Ali Mahir. Keduanya mengaku bahwa komunikasi politik yang diajarkan oleh Pak Pope sangat berguna dan menunjang kegiatannya di hadapan publik dan media. Petuah-petuah dan ilmu yang mereka dapat terutama terkait dengan memaksimalkan benda dan lingkungan disekeliling untuk bisa menjadi kekuatan sangatlah membantu.

Ali Mahir misalnya, merasa terbantu dengan masukan dari Pak Pope. Ali diingatkan bahwa dalam berkomunikasi harus menggunakan artikulasi yang jelas tanpa harus terburu-buru. Sedangkan Slamet Junaidi merasa mendapatkan pencerahan setelah mendapatkan masukan dari Pak Pope dalam mengoptimalkan gaya bahasa tubuh terutama tangan.

Sementara itu sang coach yang bernama lengkap Agustinus Pope menekankan bahwa semua orang memiliki potensi yang sama untuk bisa berbicara di depan umum. Tinggal kemudian, seberapa mau kita melatih‎ diri dengan disiplin.

"Tuhan sudah memberikan modal yang sama bagi kita semua. Tinggal kita, mau atau tidak untuk melatihnya," ungkap Pope.