Kelahiran 'Nona Seroja', Harapan Baru Konservasi Gajah Sumatra di Tesso Nilo

12 JUNI 2026, 13:13:11 WIB 2 MENIT BACA 48
Kelahiran 'Nona Seroja', Harapan Baru Konservasi Gajah Sumatra di Tesso Nilo

JAKARTA (12 Juni): Anggota Komisi IV DPR RI Rajiv, mengapresiasi keberhasilan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan, Riau melakukan konservasi gajah  Sumatra (elephas maximus sumatranus), dengan lahirnya anak gajah yang diberi nama Nona Seroja.

“Kelahiran ini merupakan kabar baik bagi dunia konservasi, sekaligus menjadi simbol bahwa upaya perlindungan gajah Sumatra masih memberikan hasil nyata di tengah berbagai tantangan pelestarian satwa liar,” ucap Rajiv dalam siaran tertulisnya Jumat (12/6/2026).

Menurut Rajiv, kawasan Flying Squad Balai TNTN telah mencatat empat kelahiran anak gajah dalam delapan tahun terakhir, dengan proses reproduksi alami antara induk gajah binaan dan gajah liar yang berada di kawasan TNTN. 

Lebih lanjut, legislator asal Dapil Jabar II itu menunjukkan bahwa pengelolaan yang baik, pendampingan mahout, dukungan medis veteriner, serta keberadaan habitat yang masih mendukung dapat menghasilkan capaian konservasi yang konkret. 

“Kehadiran Nona Seroja tidak hanya menambah populasi gajah binaan di Camp Elephants Flying Squad Tesso Nilo, tetapi juga menunjukkan bahwa pola konservasi terkelola yang dilakukan di TNTN dapat menjadi salah satu contoh penting bagi pengelolaan konservasi gajah di Indonesia,” tukas Rajiv.  

Angka itu menjadi pengingat bahwa setiap kelahiran anak gajah memiliki arti besar, bukan hanya sebagai penambahan individu, tetapi juga sebagai harapan bagi keberlanjutan populasi jangka panjang.

“Saat ini gajah Sumatra masih berada dalam status critically endangered atau terancam punah kritis. Kementerian Kehutanan mencatat populasi gajah Sumatra di 22 lanskap koridor yang tersisa di Sumatra diperkirakan sekitar 1.100 individu. Jadi kelahiran gajah Nona Seroja ini patut jadi kegembiraan kita semua,” ungkap Rajiv. 

Ia menyatakan kelahiran Nona Seroja juga perlu dilihat sebagai momentum untuk memperkuat relasi antara manusia dan gajah. Konflik manusia-gajah masih menjadi salah satu tantangan utama konservasi, terutama akibat perubahan fungsi lahan, penyempitan habitat, dan terputusnya koridor jelajah gajah. 

Olwh karena itu, keberhasilan konservasi tidak cukup hanya dilakukan melalui perlindungan satwa, tetapi juga harus disertai dengan penguatan hubungan yang harmonis antara masyarakat, pengelola kawasan, aparat, pemerintah daerah, dan seluruh pihak yang hidup berdampingan dengan ekosistem gajah.

“Saya berharap model konservasi di Tesso Nilo, khususnya melalui pengelolaan Flying Squad, dapat terus diperkuat dan dijadikan role model konservasi gajah Sumatra di Indonesia. Model ini penting karena tidak hanya berfokus pada penyelamatan satwa, tetapi juga mencakup perawatan, pemantauan kesehatan, mitigasi konflik, edukasi masyarakat, serta perlindungan habitat secara berkelanjutan,” pungkas Rajiv. (kabul/*)