Merger BUMN Harus Nyata Turunkan Biaya Logistik Nasional

22 JUNI 2026, 08:37:57 WIB 2 MENIT BACA 76
Merger BUMN Harus Nyata Turunkan Biaya Logistik Nasional

JAKARTA (22 Juni): Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel, meminta PT Pos Indonesia memastikan rencana merger dan konsolidasi BUMN logistik benar-benar memberikan dampak nyata terhadap penurunan biaya logistik nasional yang selama ini menjadi salah satu beban utama dunia usaha.

Menurut Gobel, biaya logistik yang tinggi selama ini berpengaruh langsung terhadap harga produk dan daya saing industri nasional. Oleh karena itu, rencana merger harus memiliki target yang jelas dan terukur.

“Biaya logistik di Indonesia ini sangat mahal. Ini memberikan dampak kepada biaya produk yang ada di Indonesia,” kata Gobel dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan Direktur Utama PT Pos Indonesia, Senin (22/6/2026).

Legislator Fraksi NasDem dapil Gorontalo itu mempertanyakan sejauh mana strategi merger yang sedang disiapkan PT Pos Indonesia mampu menekan biaya logistik nasional.

“Saya belum melihat berapa persen rencana dengan merger ini bisa mengurangkan kos logistik kita,” ujarnya.

Gobel juga meminta manajemen PT Pos Indonesia menjelaskan secara gamblang arah konsolidasi yang akan dilakukan, termasuk memastikan skema yang ditempuh merupakan merger dan bukan sekadar perubahan status perusahaan.

“Ini merger, ya? Bukannya jadi anak perusahaan, bukan?” tanya Gobel.

Selain menyoroti efisiensi logistik, Gobel mendorong PT Pos Indonesia untuk memperkuat kolaborasi dengan pelaku ekonomi digital dan transportasi berbasis aplikasi dibandingkan melakukan investasi besar yang membutuhkan biaya tinggi.

Menurutnya, kemitraan dengan pengemudi ojek online dan pelaku usaha mikro akan lebih efektif memperluas jaringan distribusi sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.

“Apakah tidak terpikirkan Bapak melakukan sinergitas dengan mereka-mereka? Sehingga Bapak tidak perlu melakukan investasi,” katanya.

Ia menilai strategi tersebut dapat memangkas biaya operasional perusahaan sekaligus memperkuat ekosistem UMKM nasional.

“Kalau Bapak investasi, ongkosnya mahal. Biaya maintenance dan biaya lain sebagainya. Kenapa tidak memanfaatkan para UMKM ini dalam strategi mengurangi kos produksi dan kos logistik?” tegas Gobel.

Lebih jauh, Gobel melihat peluang konsolidasi BUMN logistik untuk memberikan dampak sosial yang lebih luas melalui pemberdayaan pengemudi ojek online dan pelaku usaha kecil.

“Saya yakin para ojek ini akan ada pendapatan buat mereka. Sekaligus bisa dilakukan pembinaan tentang servis atau pelayanan yang lebih berkualitas,” ujarnya.

Gobel menambahkan, apabila sinergi tersebut diwujudkan secara serius, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan PT Pos Indonesia, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan UMKM dan memperkuat ekonomi kerakyatan.

“Kalau ini dilakukan, ini akan luar biasa. UMKM kita akan tumbuh dan berkembang,” pungkasnya. (yudis/*)