Kunker, Legislator NasDem Tinjau Pelaksanaan Rehabilitasi SMPN 2 Widodaren

22 MEI 2017, 07:07:07 WIB 2 MENIT BACA 931
Jakarat - Anggota Komisi X DPR RI Yayuk Sri Rahayuningsih tetap konsisten dalam melakukan pengawasan pada dunia pendidikan. Terbukti, dalam kunjungan kerjanya, legislator partai NasDem ini menyempatkan diri mengunjungi SMPN2 Widodaren Ngawi. Pada kesempatan tersebut Yayuk meninjau pelaksanaan proses rehabilitasi tiga ruang kelas atau ruang kelas baru (RKB) mendasar program yang diluncurkan dari jaring aspirasinya tahun 2016 lalu. “Alhamdulilah pelaksanaan rehabilitasi sesuai dengan perencanaan yang ada. Tentunya ruang kelas yang sudah dibangun kembali seperti ini sebagai motivasi dan semangat anak-anak dalam belajarnya,” terang Yayuk, panggilan akrabnya, seperti dilansir SIAGAINDONESIA, Kamis (18/05). Menurutnya, proses rehabilitasi RKB melalui proses pengawasan ketat terutama yang dilakukan pihak Irjen Kementerian Pendidikan selama ini. Seperti halnya pada tiga ruang kelas di SMPN 2 Widodaren semua struktur bangunan dinyatakan memenuhi standart kualifikasi yang ada. Sehingga tidak perlu ada kekhawatiran semua pihak terhadap mutu bangunan itu sendiri. Ditempat yang sama Yayuk pun menerima keluh kesah dari pengajar lembaga pendidikan menengah, seperti yang disampaikan Stepanus. Menurut keteranganya, pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) belum sepenuhnya bisa mendukung tercapainya Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) secara mandiri. “Sekarang ini UNBK kenyataanya masih menumpang di sekolah lain yang mempunyai fasilitas komputer lengkap. Sehingga para siswanya pun terpaksa menumpang pada waktu ujianya itu. Kalau hal ini dibiarkan terjadi terus menerus bisa mengganggu psikologi dari siswa itu sendiri jelas mereka tidak nyaman,” ungkap Stepanus. Seperti diketahui terkait hal itu, Mendikbud mengeluarkan surat edaran Nomor 1 tahun 2017 tanggal 10 Januari 2017 kepada gubenur dan bupati, tentang pelaksanaan Ujian Nasional 2016/2017, guna meminta seluruh instansi pemerintahan mendukung pelaksanaan UNBK. Namun, katanya, dampak dari dihapusnya mata pelajaran TIK, maka sekolah juga tidak memiliki Laboratorium Komputer karena guru TIK sudah tidak ada lagi. Ini berarti ke depannya siswa tidak mengenal apa itu TIK. Menanggapi problematika UNBK yang terjadi Yayuk berjanji tetap akan memperjuangkan sesuai ranahnya. Yakni bakal memperjuangkan melalui regulasi UU ASN. Diakuinya, dalam pelaksanaan UNBK sejak tahun 2016 sudah bagus, karena secara praktiknya sudah efisien, tetapi kurangnya di beberapa sekolah sarana prasarananya terutama komputer masih belum terpenuhi. “Kita akui bersama banyak siswa SMP dalam mengikuti UNBK banyak yang numpang disekolah lain. Tentunya kondisi semacam ini harus kita perjuangkan jangan sampai berlarut-larut kalau bisa semua SMP yang ada harus bisa UNBK mandiri,” pungkas Yayuk.