Jakarta - Indonesia merupakan negara multicultural dengan keberagaman suku maupun agama. Sejak 1945, keberagamaan tersebut disatukan dalam sebuah ikatan yang kuat dalam sebuah ideologi yakni Pancasila dengan. Namun tidak berarti Indonesia tidak menemukan persoalan dalam perjalanan sejarah, berulang kali Pancasila tersebut coba digoyahkan oleh berbagai usaha-usaha yang ditimbulkan baik dari dalam maupun luar Indonesia. “Inilah yang melandasi diselenggarakannya Seminar Wawasan Kebangsaan dalam Menangkal terorisme oleh Fraksi Partai NasDem DPR RI,” Wawan Gunawan Ketua Panitia. Di era globalisasi saat ini, Indonesia tidak hanya menghadapi persoalan dari bidang ekonomi, sosial atau budaya saja, tetapi saat ini Indonesia sedang mengalami persoalan ancaman terorisme. Hal mencengangkan tidak sedikit warga negara Indonesia yang terlibat dalam kelompok radikal ISIS di Suriah. Seminar yang bertema “Menegaskan Pancasila dan Ikrar Bhineka Tunggal Ika Dalam Membangun Keindonesiaan yang Majemuk untuk Menghadapi Terorisme” berlangsung di ruang KK V, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jum’at, (28/8/2015). Menghadirkan As’ad Said Ali, Irfan Idris (Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme / BNPT), Nasir Abbas (Pengamat gerakan Terorisme) dan Kombes Faisal (Densus 88) sebagai pembicara. Dalam kesempatan itu, anggota komisi I dari Fraksi Partai NasDem, Supiadin Aries Saputra yang didapuk sebagai moderator, menilai acara tersebut sangat penting bagi seluruh kalangan masyarakat. Karena, menurutnya, sebetulnya dalam menanggulangi ancaman terorisme tidak bisa hanya menjadi tanggungan bagi aparat keamanan saja, tetapi sangat diperlukan peran dari masyarakat. “Penangulangan teroris bukan hanya tanggungan dari aparat saja. Tetapi masyarakat juga dengan adanya early warning system (pendeteksian awal) yang tepat. Maka kita akan mampu mendeteksi dini upaya personal yang ingin melakukan teror,” ungkapnya. Dia menuturkan bahwa pola early warning system tersebut pernah dia terapkan dalam upaya mencegah terjadinya terorisme di Bali saat dia bertugas aktif di TNI. “Saat itu, saya kumpulkan para pecalang serta babinsa membicaraan kondisi daerah tersebut. Selain itu, saya meminta juga kepada kepala desa agar mendata dan menanyakan pendatang baru yang tinggal sementara di Bali. Karena menurut saya, teroris itu biasanya juga menetap bersama di pemukiman masyarakat,” kata mantan Pangdam IX/Udayana. Selain itu, Supiadin juga menyebutkan bahwa di era globalisasi, peranan keluarga terutama orang tua juga sangat penting dalam melindungi anaknya. “Remaja sekarang itu berbeda dengan masa lalu, seiring dengan berkembangnya teknologi (internet), maka mereka dengan mudah mengakses segala hal yang terkait ideologi yang radikal hingga dalam bagaimana merakit senjata saja bisa mereka akses”, ujarnya. Senada dengan Supiadin, Mantan Petinggi Badan Intelejen Negara (BIN) As’ad Said Ali yang juga diundang sebagai narasumber acara tersebut, menuturkan bahwa Pancasila dengan Bhineka Tunggal Ika-nya memiliki kekuatan dalam menangkal bahaya terorisme tersebut. As’ad menyebutkan bahwa salah satu dorongan adanya terorisme global, terutama yang terjadi di belahan timur tengah, dikeranakan adanya gerakan yang kelompok Islam keras (fundamental) yang berupaya melawan ketidakadilan bangsa barat, terutama Amerika Serikat. “Seperti terjadi di Palestina, bertahun-tahun tidak diberikan kemerdekaan sebagai suatu negara. Negara barat tidak ada satupun yang membela. Sedangkan sebaliknya yang diberikan oleh Amerika kepada Israel saat melanggar malah dibela. Inilah salah satu faktor yang menimbulkan terjadinya gerakan terorisme global,” ujar tokoh yang sempat mencalonkan diri sebagai pimpinan pusat ormas Nahdlatul Ulama (NU). Namun, menurut As’ad Ali, yang menjadi persoalan yang tidak benar adalah adanya pemahaman dari gerakan tersebut yang mengeneralisir pihak yang dianggap musuh bagi mereka. “Jadi ketika Indonesia berteman dengan Amerika dan Inggris adalah menjadi musuh bagi mereka. Jadi yang menjadi musuh mereka itu bukan hanya Nasrani tetapi umat Islam yang berkawan dengan yang dianggap musuh oleh mereka. Maka umat Islam tersebut dianggap musuh bagi mereka, ini yang menjadi persoalan dan pemahaman yang salah yang harus kita luruskan,” kata penulis buku Negara Pancasila (2011). Asad Ali menyebutkan bahwa dalam pendekatan terhadap teroris sebaiknya menggunakan cara-cara persuasif. “Karena dengan cara yang keras biasa teroris ini semakin menguat, kita sebagai ormas Islam siap berdialog dengan mereka. Selain itu, kita juga harus memperkuat perekonomian umaat, karena tidak sedikit mereka yang mengikuti gerakan ISIS terjebak karena permasalahan ekonomi,” pungkasnya. Selain As’ad, seminar tersebut juga mengundang Irfan Idris (Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme / BNPT), Nasir Abbas (Pengamat gerakan Terorisme) dan Kombes Faisal (Densus 88).