Jakarta – Ujian Nasional (UN) yang hingga saat ini masih diberlakukan, tampaknya tidak menghasilkan siswa yang memiliki integritas. Tuntutan terhadap hasil ujian dianggap lebih dominan daripada bersikap jujur pada kemampuan diri. Inilah yang sering membuat para siswa menghalalkan segala cara dalam mendapatkan nilai dalam ujian. Dalam Rapat Kerja dengan Komisi X DPR, Senin (01/02), Mendikbud Anies Baswedan menyampaikan tentang perlu adanya perubahan penilaian terhadap hasil ujian siswa dalam UN. Selama ini, nilai lebih ditekankan pada aspek kuantitas dibanding aspek kualitas dari anak didik. Oleh karena itu, untuk melengkapi aspek penilaian  para siswa, perlu juga diterapkan indeks integritas dalam ujian nasional. Hal ini karena, “Kejujuran di atas segala-galanya, karena itu mutlak," ungkap Anies. Anggota Komisi X Kresna Dewanata Phrosakh mengungkapkan salut dan apresiasinya terhadap pemikiran tersebut. Gagasan mengenai indeks integritas dianggapnya menarik dan bisa memperbaiki mentalitas para siswa. Jika hanya berpatokan pada penilaian angka saja maka sisi moralitas siswa tidak akan terlihat.‎ “Jika nilai itu menjadi mutlak maka kita tidak bisa melihat potensi-potensi atau integritas di dalam diri siswa tersebut,†ucapnya. Dewa menyebutkan bahwa gagasan tersebut tidak perlu mengubah kurikulum 2013 yang sudah diterapkan. Gagasan indeks integritas, menurutnya, bisa menjadi suplemen guna memperkuat kurikulum bagi kebutuhan pendidikan dasar dan menengah. Dengan begitu, gagasan ini bisa menghasilkan generasi Indonesia yang cemerlang, yang bukan hanya pintar tetapi juga jujur.