Reses Akbar Faizal: Dari Menteri hingga Tukang Siomay

08 AGUSTUS 2016, 00:43:14 WIB 4 MENIT BACA 1006
[gallery size="large" ids="22168,22169,22170,22171,22172,22173"] Makassar – Penuhi panggilan konstitusionalnya, Akbar Faizal, anggota DPR RI dari Fraksi NasDem, mengunjungi sejumlah tempat di Makassar dalam masa reses persidangan keempat DPR RI tahun 2015-2016. Lahir di tanah Ayam Jantan dari Timur, pria yang sudah malang melintang di jagat politik nasional ini tidak pernah merasa lebih besar dari orang kebanyakan, apalagi dari rakyat Sulawesi Selatan yang diwakilinya.  Akbar terus menyegarkan darah leluhur yang dipompa jantungnya dengan mendatangi berbagai daerah dan kelompok masyarakat di Sulawesi Selatan. “Halo, Mas Suhendra. Ini saya sedang bersama warga Jeneponto yang mengeluhkan minimnya perhatian negara di sini, khususnya tentang pemenuhan kebutuhan air, tolong jelaskan ya”, ucap Akbar Faizal melalui telepon yang diperdengarkan langsung (loud speaker) di hadapan warga yang hadir. Suhendra Prawira Negara, nama lengkapnya, adalah Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum. Dia dihubungi Akbar karena sang menteri tak berhasil dihubungi. Peristiwa tersebut terjadi saat dia menemui warga Jeneponto yang mengeluhkan soal ketersediaan air, Kamis (4/8) kemarin. Tanpa banyak prosedur protokoler, basa-basi apalagi janji-jani, dia langsung keluarkan telepon selularnya dan menelepon pihak yang berkaita dengan masalah warga. Warga yang mendengar langsung percakapan tersebut, langsung sumringah dan tampak takjub dengan gayanya yang begitu terbuka. Pesannya pun tidak kalah kuat. “Saya minta (tolong) sampaikan kepada Pak Menteri, saya menelepon dan meminta agar dicarikan jalan keluar yang konkrit disini,” ujar Akbar. Di lain waktu, Akbar juga hadir di tengah masyarakat binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Bulukumba. Riuh hukuman mati yang baru saja dilaksanakan di Cilacap terhadap bandar narkoba, memberinya inspirasi untuk melihat secara langsung tahanan kejahatan narkotika. “Siapa yang masuk karena kasus narkoba?” Tanya Akbar di antara ratusan tahanan yang ditemuinya. Satu persatu tangan para tahanan menjulang. Anggota Komisi Hukum ini memperhatikan tangan-tangan yang menunjukkan pengakuan para tahanan kasus narkoba. Sambil menggelengkan kepala, Akbar tampak menarik napas tanda keprihatinannya. Darah sastra dan keilmuan yang dimilikinya sontak menyeruak, "Sudah terlalu banyak air mata jatuh karena narkoba. Tidak sadarkah kalian saudaraku semua, bahwa apa yang telah kalian lakukan bukan saja melukai dirimu sendiri tetapi juga keluargamu, anakmu, istrimu," ungkap Akbar dengan penuh perasaan. Bercakap tanpa jarak, Anggota DPP Partai NasDem ini tampak serius menyimak keluh kesah para tahanan. Ada kalanya dia tampak serius menyampaikan pemikiran dan kehendaknya, ada kalanya dia hanya tekun mendengar para tahanan bercerita kondisi mereka. Di akhir pertemuan, Akbar yang juga pegiat teater ini mengajak para tahanan untuk mengangkat sumpah. "Saya berjanji dan bersumpah, atas nama Allah tidak akan menyentuh narkoba lagi dan akan berusaha mengembalikan harkat dan martabat keluarga saya," bimbingnya dalam keheningan di hadapan tahanan. Bukan hanya piawai dalam komunikasi politik, mantan tim sukses pemenangan Jokowi-JK ini juga mantap dalam memotivasi orang lain. Inilah yang dilakukannya saat menemui ratusan santri di Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah, Gombara Makassar. "Kurikulum pesantren sekarang tidak kalah maju dibandingkan yang lain. Yakinlah, anda berada di dalam sistem pendidikan Islam terbaik", tegas ayah tiga anak ini. Dia menyampaikan kepada para santri, di era globalisasi sekarang ini, masyarakat memasuki persaingan tanpa batas, era borderless. “Kita tidak bisa lagi membendung persaingan itu. Maka tidak ada jalan lain selain semua harus menyiapkan diri, baik dari segi keilmuan dan keimanan,” ucapnya. Hal senada juga disampaikannya kepada lulusan Akademi Kebidanan Bulukumba. Berbicara di hadapan para guru besar, dia menyampaikan berbagai tantangan dunia kesehatan khususnya kebidanan di masa depan.  “Di tengah keterbatasan anggaran negara menggaji aparaturnya, praktis tidak semua bidan dapat diangkat sebagai PNS. Jadi siapkan plan B-mu, jadilah bidan mandiri, pengusaha, dan apapun profesi halal lain," pesannya memotivasi para lulusan. Di tempat berbeda, Akbar yang memegang gelar master komunikasi politik dari Universitas Indonesia ini menyampaikan orasi ilmiahnya di hadapan 300 lulusan STIE AMKOP, Makassar. Di depan mereka, dia menyampaikan sejumlah fakta bahwa koperasi belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Aset jejaring konglomerasi korporasi di Indonesia menurutnya terus menggerogoti keberadaan koperasi, dan butuh inovasi agar koperasi kembali menjadi soko guru perekonomian rakyat. "Maka dengan lahirnya 300 wisudawan/ti STIE AMKOP, saya optimis di Sulsel akan bertambah darah segar yang mampu membangkitkan optimisme baru. Berhentilah menjadi PNS, aplikasikan ilmu yang telah kamu pelajari disini," pesannya memberi motivasi. Akbar Faizal memang sosok manusia politik yang bukan hanya berpolitik demi kekuasaan. Seiring jalan, dia membuktikan lantang suaranya memperjuangkan kebaikan dan perbaikan di tengah masyarakat. Dia bisa bercakap mesra dengan tukang siomay yang sering lewat depan rumahnya sebaik dia bercakap dengan para pejabat penting negara.