Jakarta – Saudi Arabia akan mengejar ketertinggalannya dengan negara tetangganya UAE dan Qatar serta ingin menjadi negara industri maju. Untuk itu mereka hendak membangun Kota Industri Modern yang jauh lebih bagus dari Dubai dan Doha yang terletak di pinggir Laut Merah selatan Teluk Aqaba sebelah Utara Madinah. Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi NasDem, Kurtubi menyatakan meski Saudi Arabia adalah negara dengan padang pasir yang sangat luas, industrialisasi di kota industrinya tidak mengandalkan listrik PLT Surya, tapi lebih ke PLT Nuklir. Menurut legislator NasDem yang ahli di bidang Energi Sumber Daya Mineral, Riset, Teknologi dan Lingkungan Hidup ini, karena PLTS tidak stabil dan sangat tergantung kepada  BATERAI/AKI raksasa untuk menyimpan setrum yang juga merusak lingkungan. Selain seringnya terjadi badai pasir yang menutup plat-plat PLTS, PLTS tidak cocok untuk mendukung industrialisasi. PLTS, PLT Bayu atau angin hanya cocok sebagai pelengkap dalam penyediaan listrik. “Kita sangat-sangat tertinggal. Padahal Bung Karno sudah mencita-citakannya sejak tahun 1956. Rusia, AS, Perancis, UAE, China dan lain-lain, bahkan Bangladesh  lebih cerdas dan lebih berani dari kita dalam memanfaatkan ciptaan Tuhan berupa URANIUM (nantinya juga THORIUM ) sebagai bahan baku PLTN yang dalam jumlah yang sangat kecil (dalam hitungan kg) dapat menghasilkan energi listrik yang sangat besar,†ujar legislator NasDem Dapil NTB ini, Rabu (3/1/2018). Sambung Kurtubi, Saudi Arabia sudah mengadakan Kerjasama Reaktor Nuklir dengan Russia, China dan lain-lain. Untuk dimaklumi, saat ini PLTN yang beroperasi di Russia sebanyak 35 unit pembangkit. Dibandingkan dengan di Indonesia saat ini PLTN komersial 0 (nol) unit alias tidak ada. Sedangkan di Amerika Serikat saat ini ada sekitar 100 unit PLTN yang sedang beroperasi. “Kita habis waktu untuk berdebat pro dan kontra perkara PLTN yang sudah jelas-jelas (proven) memberikan manfaat bagi kesejahteraan umat manusia,†pungkasnya.