Legislator NasDem Minta Pemerintah Bantu Petani Terdampak Puso di Pati

10 FEBRUARI 2026, 10:03:54 WIB 2 MENIT BACA 236
Legislator NasDem Minta Pemerintah Bantu Petani Terdampak Puso di Pati

PATI (10 Februari): Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Sri Wulan, menegaskan pentingnya perhatian serius terhadap kondisi gagal panen (puso), yaitu gagal panen total akibat tanaman padi mati atau tidak dapat dipanen karena bencana, seperti banjir.

“Saya mendorong agar petani yang lahannya puso segera mendapatkan perhatian, baik melalui bantuan benih, pupuk, maupun skema perlindungan pertanian. Ini harus kita kawal bersama agar petani tidak semakin rugi,” tegas Wulan saat berdiskusi dengan belasan kepala desa, di Pati, Jawa Tengah, Jumat (6/2/2026).

Wulan bersama para kepala desa berdiskusi serta membahas dampak bencana banjir terhadap sektor pertanian di Daerah Pemilihan Jawa Tengah III (Pati, Blora, Rembang, dan Grobogan).

Dalam forum tersebut terungkap bahwa banjir telah merendam 2.674 hektare sawah di 58 desa pada sembilan kecamatan di Kabupaten Pati. Dari jumlah tersebut, 653 hektare telah dinyatakan puso karena tanaman padi terendam air selama beberapa hari dan tidak dapat berkembang.

Menanggapi kondisi tersebut, Wulan menegaskan komitmennya untuk mengawal penanganan petani terdampak banjir dan gagal panen. “Saya mendorong agar petani yang lahannya puso segera mendapatkan perhatian,” ujarnya.

Ia juga menekankan perlunya kerja bersama lintas sektor dalam penanganan pascabanjir, seiring mulai surutnya genangan air di sejumlah wilayah Pati, seperti Kecamatan Jakenan, Tambakromo, Kayen, Tayu, Margoyoso, dan Batangan.

Pada Sabtu (7/2/2026), Wulan bertemu masyarakat di Balai Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Pati. Kegiatan ini diikuti oleh tokoh masyarakat dan para kepala desa dalam rapat koordinasi penanganan bencana banjir.

Dalam rapat tersebut disampaikan bahwa Kabupaten Pati berada dalam kondisi gawat darurat banjir, dengan 57 desa di tujuh kecamatan terdampak dan sekitar 7.500 rumah terendam. Ketinggian air di sejumlah wilayah masih berkisar 30 sentimeter hingga lebih dari satu meter, akibat meningkatnya debit Sungai Juwana dan Sungai Simo.

“Penanganan banjir tidak cukup hanya bersifat darurat. Saya mendorong adanya solusi permanen, mulai dari normalisasi sungai, penguatan tanggul, hingga perbaikan tata kelola lingkungan agar kejadian ini tidak terus berulang setiap tahun,” ujar Wulan. (Yudis/*)