Akbar Faizal: Negara Ini sudah Terlalu Terbebani untuk Bayar PNS

09 NOVEMBER 2015, 06:16:26 WIB 2 MENIT BACA 1195
“Negara ini sudah terlalu terbebani untuk membayar para pegawai negeri, sehingga sungguh mulia jikalau anda tidak memberikan beban yang besar (lagi) kepada negara. Salah satunya dengan berwirausaha,” demikian diungkapkan anggota Komisi III Akbar Faizal minggu yang lalu di Kota Palopo, Sulawesi Selatan.
Hal ini dinyatakan Akbar saat memberikan kuliah umum di Universitas Andi Djemma (Unanda) sebagai salah satu rangkaian kegiatannya mengisi masa reses. Di depan para mahasiswa, Akbar Faizal meminta adik-adiknya itu tak terjebak orientasi kuliah yang terpatok pada cita-cita menjadi pegawai negeri.
Dalam hematnya, yang tak kalah penting bagi mahasiswa adalah inisiatif untuk membuat lapangan pekerjaan sendiri, yang pada gilirannya juga membuka peluang pekerjaan bagi orang lain.
Kuliah umum sendiri bertema “Peluang dan Tantangan Ketenagakerjaan di Era Globalisasi.” Anggota Fraksi Partai NasDem ini memaparkan ketatnya persaingan di dunia kerja, apalagi menjelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada Desember mendatang. Sebagai salah satu negara anggota ASEAN, suka tidak suka masyarakat Indonesia harus siap mengambil peran di dalamnya.
Akbar tak memungkiri bahwa Indonesia masih menanggung PR besar terkait puluhan ribu sarjana yang masih menyandang status pengangguran, baik terbuka mau pun tertutup. Oleh karena itu, mahasiswa harus mampu bersaing dan memiliki keterampilan sebelum melangkah ke dunia kerja.  
"Adik-adik yang ada di Unanda ini tentunya tidak ingin menganggur, karena itu Anda semua harus merubah pola pikir dan mengikuti perkembangan zaman. Dengan kerja keras kita pasti bisa," katanya kepada ratusan mahasiswa yang hadir dalam kuliah umum tersebut.
Dia menambahkan, "Tidak ada gunanya gelar, kalau tidak bermanfaat bagi sesama manusia, itu sama saja dengan orang yang tidak berpendidikan."
Akbar juga menganjurkan para mahasiswa untuk membiasakan diri menulis di berbagai media. Dia berharap, lembaga pendidikan bisa memberi apresiasi kepada mahasiswanya yang mampu menulis dan dimuat di media.
Dia mengakui, ada perbedaan minat menulis antara mahasiswa saat in dengan mahasiswa pada generasinya. Dalam amatannya, aktivitas menulis oleh para mahasiswa di lingkungan kampus saat ini sudah mulai menurun, sehingga para mahasiswa harus kembali membiasakannya.
"Menulis berarti anda sudah memberikan sumbangsih pemikiran bagi orang lain," tandasnya.