Jakarta - Pembekuan PSSI dalam rentang waktu yang cukup lama dikhawatirkan memberikan dampak pada persepakbolaan Indonesia. Keresahan ini disuarakan Anggota komisi X Fraksi NasDem Kresna Dewanata Phrosakh, dalam rapat dengar pendapat Komisi X dengan Komite AdHoc Reformasi PSSI, Senin, 22 Februari 2016. DPR mengagendakan rapat dengan Komite Adhoc reformasi PSSI guna memperoleh masukan terkait dinamika dan situasi sepakbola Indonesia terkini. Termasuk juga dampak sanksi pembekuan PSSI terhadap Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games XVIII tahun 2018 ini. Dewa mengatakan rapat ini penting karena menurutnya kondisi pesepakbolaan Indonesia saat ini cukup memprihatinkan. Menurutnya, tidak saja aspek kompetisi sepak bola yang berhenti akibat pembekuan PSSI ini, tetapi juga dampak sosial kemanusiaan pun terjadi. "Dapil saya di Malang Raya, basis sepak bolanya tinggi. Banyak kehidupan yang bergantung pada sepak bola disana," ujarnya sesaat selesai mengikuti rapat yang dihadiri langsung Agum Gumelar. Dia melanjutkan, pemerintah harus lebih bijak menyikapi permasalahan hukuman suspension dari FIFA. karena dampaknya sangat luas. Dewa khawatir masalah ini tetap tidak ada solusinya, jika masing-masing pihak mempertahankan ego. Dia menekankan perlunya solusi yang baik, win-win solution atas rencana sanksi FIFA dan atas pembekuan PSSI. Harapannya masukan dari komite adhoc PSSI ini diterima oleh pihak pemerintah dengan tujuan memperbaiki dan memajukan persepakbolaan Indonesia. Tanpa harus ada yang merasa dikalahkan. "Sekali lagi mari kita letakkan seluruh ego pribadi. Kita tunggu keputusan bijak dari presiden melalui Menpora agar semua happy ending," pesannya. Tokoh pemuda Kabupaten Malang ini menilai semestinya Kemenpora segera mengeluarkan surat Pencabutan SK Menpora tentang pembekuan PSSI terlebih dahulu. Baru kemudian dilaksanakan reformasi PSSI. Semua yang dilakukan pemangku kepentingan termasuk komite adhoc sudah benar dan sesuai keinginan seluruh masyarakat Indonesia yang rindu akan kompetisi sepak bola yang semakin sehat dan berprestasi. Mengingat Asian Games yang sudah mendekat waktunya karena Indonesia menjadi tua rumah, Dewa meyakinkan bahwa pemerintah punya langkah strategis penyelesaian terhadap jalan kompetisi besar ini. "Ya kita semua berharap ada solusi dari permasalahn ini," ujarnya. Sebelumnya, di dalam rapat komisi X, Agum Gumelar, Ketua komite ad hoc menjelaskan bahwa sejak awal sebelum-sebelum di bentuknya tim Ad Hoc pun dia sering minta pada PSSI untuk introspeksi diri. "Tidak ada dalam kamus PSSI melawan pemerintah, Ini masalah ego yang terlalu tinggi, saya setuju," cetusnya. Dia menyebutkan sepakbola di Indonesia ini sudah menjadi industri, rating penyiaran sepak bola kita bisa mengalahkan Eropa.