DPR Pertanyakan Arah Pembangunan Suramadu yang Melenceng

22 SEPTEMBER 2017, 09:46:06 WIB 2 MENIT BACA 953
Jakarta – Salah satu alasan jembatan suramadu dibangun adalah untuk memindahkan industri yang berjubel dari Surabaya ke Madura. Akan tetapi kenyataannya sekarang industri yang ada di Surabaya malah lari ke Jombang, Nganjuk, hingga ke Madiun. Anggota Komisi V DPR RI Soehartono mempertanyakan penyebab terjadinya fenomena itu. “Madura seharusnya menjadi kawasan industri yang mandiri. Karena kalau keadaan tidak jelas seperti ini bisa repot. Ini sudah lama semenjak jembatan Suramadu ada, dari tahun ke tahun selalu membebaskan tanah untuk wilayah industri. Tapi sasarannya tidak kunjung tiba,” kata Soehartono dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi V dengan BMKG, Basarnas, BPWS di Jakarta, beberapa waktu yang lalu. Dia menilai, pemerintah sekarang sibuk mengurusi pembangunan rest area dan beberapa fasilitas pendukung lainnya saja di Madura. Sementara niat awal untuk merelokasi kawasan industri dari Surabaya ke Madura tidak berjalan sesuai rencana. “Seharusnya kalau industri ada, rest area dan jalan itu akan mengikuti. Tapi ini tidak,” imbuh anggota dapil Jatim VIII ini. Oleh karena itu Soehartono mempertanyakan alokasi dana APBN yang digunakan BPWS terkait hal tersebut. Ini mengingat angka yang cukup besar untuk membangun infrastruktur sementara tujuan dan arahnya jadi tidak jelas. Menurutnya, ini seharusnya menjadi pemecahan bersama antara BPWS dan pemerintah. Apalagi, dalam rancangan pemerintah, Madura akan dijadikan satu kawasan yang diproteksi dan menjadi wilayah yang netral, seperti PT SIER yang merupakan badan usaha milik negara yang 50% sahamnya dimiliki oleh pemerintah pusat dan sisanya dimiliki oleh pemerintah Surabaya dan Jatim. “Akan sulit tahun ke depannya kalau masalah ini tidak dirundingkan bersama. Fasilitas itu bisa nanti setelah tujuan pokok pemindahan industri ini terlaksanakan,” tuturnya.