Jakarta - Selaku putera Madura, daerah penghasil garam terbesar di Indonesia, Slamet Juneidi paham betul soal garam. Apalagi, ia sekarang sudah duduk di Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem. Tak pelak, soal garam menjadi salah satu perhatian terbesar pria yang juga kerap dipanggil H. Idi itu. Ditemui di ruangannya selepas rapat komisi pada Kamis (26/3/15), Juneidi mengatakan bahwa Madura adalah daerah penghasil garam terbesar di Indonesia. Tak kurang dari 700 ribu ton per tahun atau sekitar 50 % dari total produksi garam nasional dipasok dari Madura. “Kadang tergantung musim. Kalau kemaraunya lebih panjang produksi garam dari Madura bisa lebih dari 700 ribu ton,” ujarnya.Menurut Slamet kebutuhan garam nasional terdiri dari garam kosumsi sebesar 1,3 - 1,4 juta ton dan 1,8 juta ton untuk garam industri. Sehingga setiap tahunnya total kebutuhan garam nasional sekitar 3,2 juta ton. Nah, dari angka tersebut, ungkap Juneidi, sebanyak 1,4 juta ton garam dipasok dari dalam negeri, di mana 400 ribu ton diproduksi oleh PT. Garam dan 1 juta ton lainnya dari petani garam atau garam rakyat. Sedangkan sisanya, sekitar 2 juta ton diperoleh melalui kebijakan impor.Juneidi menyebutkan kebanyakan impor garam ditujukan untuk memenuhi kebutuhan garam industri. “Ironi memang, kalau kita sandingkan dengan kenyataan bahwa negara kita ini adalah negara maritim,” ujar Juneidi menyayangkan. Faktanya, lanjutnya, sebagian besar impor garam industri didominasi oleh Australia. Namun masalahnya tak hanya di situ saja, selain impor garam industri tersebut, Juneidi mengungkapkan fakta bahwa petani garam masih harus menjerit ketika para importir juga “bermain” di level garam kosumsi.“Artinya kan mereka perusahaan swasta, umpamanya mereka (importir, red) pegang quota 10 ribu tapi kadang-kadang bisa impor lebih dari itu. Nah, pertanyaannya, dari mana mereka bisa dapat garam kosumsi, sementara mereka tidak pernah membeli garam dari petani garam? Akibatnya, di Madura itu banyak garam dari petani tidak terserap,” kata Juneidi.Akan tetapi dalam situasi mencekik itu, Juneidi melihat masih ada harapan bagi keberlangsungan ekonomi rakyat, khususnya petani garam. Saat ini telah dilakukan nilai penambahan Penambahan Modal Negara untuk PT. Garam sebesar 300 milyar. Dana sebesar itu digunakan untuk program di antaranya, penerapan teknologi HDPE Geomembrane di Pegaraman Sumenep 2, pembangunan sentralisasi pabrik industri garam di Camplong – Sampang, Madura, Program penyerapan garam rakyat, dan program pengembangan lahan garam di Teluk Kupang.“Untuk itu, sebagai wakil rakyat, saya sangat berkepentingan agar program tersebut terealisasi,” tegas Juneidi. Lebih jauh Juneidi menyampaikan dengan nada optimis, bahwa program penyerapan garam rakyat sebesar 222 milyar, cukup memberi angin segar bagi petani garam. Tambahan lagi pencanangan teknologi geomembran diharapkan secara signifikan dapat menggenjot produksi garam nasional. “Sehingga dari sisi produksi, impor garam dapat ditekan, di samping juga dalam hal regulasi, rencana aturan impor garam yang akan direvisi,” pungkasnya.Media Center Fraksi NasDemEmail : mediacenterfraksinasdem@gmail.comCP : Fanny Yulia (081212276996)