Fraksi Nasdem: Tak Cukup Satu Smelter Untuk Dua Tambang

13 APRIL 2015, 12:26:20 WIB 2 MENIT BACA 1461

Jakarta - Pentingnya membangun smelter untuk pertambangan, khususnya mineral logam, kembali disuarakan oleh politisi Partai Nasdem. Kali ini Endre Saifoel yang membidangi komisi VII DPR RI angkat bicara. Menurut Haji Wen, begitu juga ia kerap disapa, adanya kepastian untuk membangun smelter, akan berdampak semakin jelasnya keuntungan yang diperoleh pemerintah.

“Royalti yang didapatkan oleh pemerintah jadinya lebih nyata, karena berdasarkan hasil pengolahan melalui smelter itu, bukan lagi hanya bersandar hasil analisis yang dibuat oleh lembaga independen,” kata Endre. Dengan demikian, ungkapnya, menunda smelter berarti juga menunda pemasukan yang jelas bagi Negara.

Ditemui di ruangannya lantai 23 gedung Nusantara II, usai rapat komisi VII pada Senin (13/4/15), Endre menegaskan bahwa mendesaknya pembangunan smelter adalah amanat dari Undang-Undang (UU) Minerba No 4 tahun 2009. Harusnya, menurut Endre, dalam jangka waktu 5 tahun setelah UU tersebut dibuat, smelter sudah terwujud.

Dengan adanya smelter, Endre menambahkan pemerintah bisa mengetahui dengan jelas apa saja mineral pengikut yang terurai dari konsentrat. Tapi tak hanya itu, Endre pun masih menenggarai kemungkinan kerugian negara jika smelter telah dibuat. Pasalnya, rencana pemerintah untuk membangun smelter di Gresik mendapat beberapa catatan penting dari anggota DPR RI Fraksi Nasdem, daerah pemilihan I Sumatera Barat itu.

“Kita dari Fraksi Nasdem melihat, jangan sampai membuat satu smelter untuk dua tambang. Artinya, jika smelter yang dibuat di Gresik itu digunakan untuk mengolah tambang dari Freeport dan Newmont, kita tak bisa menentukan kadar dari masing-masing tambang,” ujarnya.

Lebih jauh Endre mengungkapkan bahwa menyatunya limbah dari dua tambang yang berbeda tersebut, sulit menentukan kandungan kadar dari masing-masingnya. “Sebab kadar dari masing-masing tambang itu berbeda,” sambungnya. Namun Endre juga mengakui bahwa salah satu alasan pembangunan smelter di Gresik itu, karena prospek kandungan limbah B3-nya bisa dimanfaatkan untuk pabrik pupuk di sana.

Endre kemudian meminta, sebaiknya smelter yang dibangun di tempat yang berbeda beda saja. Satu smelter cukup meng-cover keperluan satu tambang, dan bukan disatukan seperti yang direncanakan tersebut. “Ya, karena masih banyak mineral ikutan lain yang bisa diambil dan berharga. Biarlah Newmont bikin smelternya di satu tempat, di Lombok misalnya. Dan Freeport buatlah di satu tempat pula, kalau masyarakat Papua kan inginnya dibuat di Papua,” pungkasnya.