TASHKENT (17 Mei): Hubungan bilateral Indonesia-Uzbekistan sudah dirintis Presiden Pertama RI, Soekarno dengan Presiden Uzbekistan, Shar Rasjidov pada tahun 1956. Hingga saat ini, hubungan itu terus terjaga dengan baik. Dalam kunjungannya ke Uzbekistan, Minggu (16/5), Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Rachmad Gobel bersama rombongan didampingi Dubes RI untuk Uzbekistan dan Kyrgysztan, Sunaryo Kartadinata di Kota Tashkent, Uzbekistan, disambut Wakil Perdana Menteri/Menteri Pariwisata dan Olahraga Uzbekistan, Abduhakimov Aziz Avdukakharovich. Pertemuan tersebut membahas beberapa peluang kerja sama antara Indonesia-Uzbekistan dari sisi ekonomi yang lebih konkret. Apalagi neraca perdagangan antara Indonesia dengan Uzbekistan masih minus. “Sejarah pertama hubungan diplomatik Indonesia-Uzbekistan yang telah dilakukan Presiden Soekarno perlu kita perkuat dengan langkah-langkah yang konkret dari sisi ekonomi. Sehingga kerja sama ini dapat menguntungkan ke dua negara,†tegas Rachmad Gobel. Menurut Legislator NasDem tersebut, tugas DPR tidak hanya berfokus pada pengawasan program pemerintah, namun juga harus bisa terlibat langsung dalam mendorong kerja sama yang baik antara Indonesia dengan negara lain dari sisi ekonomi. Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor ke Uzbekistan. Pasalnya, ekspor Indonesia ke Uzbekistan saat ini belum mencakup komoditas ekspor utama seperti crude palm oil (CPO), karet, pisang, maupun kopi. Menurut Gobel, peluang meningkatkan ekspor produk-produk tersebut cukup terbuka. Hal itu mengingat Indonesia merupakan salah satu negara penghasil CPO dan karet terbesar di Asia Tenggara. Sedangkan Uzbekistan juga makin meningkatkan permintaan atas produk-produk tersebut. Wisata religi juga menjadi salah satu peluang kerja sama Indonesia-Uzbekistan karena kedua negara memiliki mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia. Salah satu bahan baku utama pupuk yang selama ini dibutuhkan Indonesia, potasium chlorat, diproduksi Uzbekistan. Perlu bagi Indonesia untuk mencari lebih banyak alternatif produsen bahan baku pupuk ini ke negara-negara lain, termasuk Uzbekistan. “Ke depan kita bisa ambil bahan ini dari Uzbekistan, atau kita mengundang Uzbekistan untuk investasi di Indonesia,†kata wakil rakyat dari dapil Gorontalo tersebut. Dalam kunjungan muhibah ini, Rachmad Gobel didampingi anggota DPR, Sugeng Suparwoto (Ketua Komisi VIIDPR/Fraksi NasDem), Supratman Andi Agtas (Ketua Badan Legislasi/ Gerindra), Willy Aditya (Wakil Ketua Badan Legislasi/NasDem), Achmad Baidowi (Wakil Ketua Badan Legislasi/PPP), Heri Gunawan (anggota Komisi XI/Gerindra), Muhamad Syahruddin (anggota Komisi IV/PAN) dan Taufik Basari (anggota Komisi III/NasDem). Wakil dari pemerintah yang ikut hadir dalam muhibah ke Uzbekistan adalah Muhamad Khayam (Dirjen Kimia, Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian) dan Heryono Hadi Prasetyo (Kepala Balai Pusat Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia Kementerian Perdagangan serta Dirut PT Pupuk Kaltim, Rahmat Pribadi.(Alfian/*)