Jakarta – Anggota Komisi I DPR RI Supiadin AS menyambut baik perihal penunjukan Sutiyoso sebagai calon tunggal Kepala Badan Intellijen Negara (BIN) yang disetujui oleh DPR pada rapat uji kelaikan, Selasa, (30/06). Ia menganggap bahwa Sutiyoso adalah sosok yang tepat karena pengalamannya di militer dan pemerintahan. Selain itu, Supiadin juga mengaku pemaparan Sutiyoso mengenai rencana strategis intelejennya cukup komprehensif dan sangat menguasai permasalahan. “Saya melihat beliau cukup kompeten menjadi kepala BIN dengan kapasitasnya dan pengalamannya dengan tugas-tugasnya. Kita melihat hasil paparan beliau sangat menguasai masalah dan menjelaskan berbagai aspek potensi-potensi ancaman, masalah demografi, geografi, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam, separatis, juga terorisme,” paparnya Supiadin juga mengingatkan tugas dan fungsi BIN dalam setiap peristiwa dan fenomena nasional termasuk jadwal Pilkada serentak 9 Desember 2015. Baginya, peran BIN sangat signifikan dalam memonitor segala kemungkinan, seperti ancaman keamanan serta konflik horizontal. Pilkada yang akan melibatkan 269 daerah bisa dianggap rumit karena Pilkada serentak baru pertama kali diselenggarakan. Tugas pertama dari seorang Kepala BIN, akan menentukan stabilitas politik supaya tetap terjaga pasca pengumuman hasil pilkada kelak. “(Sutiyoso juga) harus mampu mengelaborasi ancaman. Contohnya mengelaborasi separatis, ISIS. Mengantisipasi Pilkada di 269 (daerah) sudah dijelaskan (secara) rinci, juga kemungkinan yang akan dihadapi. Membangun dan menciptakan kondisi agar tidak terjadi benturan, jika Pilkada 269 (daerah) itu terjadi gangguan-gangguan fisik yang akan mengganggu stabilitas politik nasional," ujarnya. Bukan hanya itu, Supiadin juga menyoroti anggaran BIN yang dinilai kurang. Konsekuensinya, kinerja BIN saat ini dianggap Supiadin biasa-biasa saja. Baginya, BIN harus bisa melejit seperti agen spionase internasional yang mampu memberikan data dengan tingkat akurasi tinggi. Maka memang harus juga didukung anggaran oleh pemerintah untuk modernisasi peralatan pendukung intelijen. “Anggaran harus ditambah untuk bisa menjadi lembaga yang akurat yang tepat. Tepat dalam memberikan informasi. Maka dia harus memiliki alat yang modern. Semua alat untuk intelijen dan dengan anggaran yang sekarang, tugas-tugasnya biasa-biasa saja," tambahnya. Dengan modernisasi ke depannya, Supiadin memandang BIN akan dapat menjadi sumber informasi utama bagi Presiden dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan populernya. “BIN juga harus menjadi sumber informasi yang akurat untuk Presiden. Jadi presiden tidak boleh lagi mendapat informasi di luar dari BIN (untuk hal strategis),” tutupnya.