JAKARTA (7 Juli): Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat harus menjadi agenda prioritas bersama, karena Covid-19 tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang merupakan masa depan bangsa. "Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap paparan Covid-19 dengan risiko yang sama tingginya dengan orang dewasa. Kondisi ini harus menjadi perhatian setiap keluarga dan kita bersama," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat membuka diskusi daring bertema Upaya Menyelamatkan Anak Indonesia Dalam Pandemi (Tata Kelola Kesehatan Anak Hingga Persiapan Vaksinasinya), yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 di Jakarta, Rabu (7/7). Dalam diskusi yang dimoderatori Anggiasari Puji Aryatie (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Koordinator Bidang Penyerapan Aspirasi Masyarakat dan Daerah) itu, hadir Siti Nadia Tarmizi (Juru Bicara Kemenkes), Bambang Supriyanto (Juru Bicara Satgas Percepatan Penanganan Covid-19), Retno Listyarti (Komisi Perlindungan Anak Indonesia-KPAI), Ni Nyoman Tri Puspaningsih (Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Community Development Unair/ Ketua PUSAT Pusat Riset Rekayasa Molekul Hayati Unair) sebagai narasumber. Selain itu juga menghadirkan Tjandra Yoga Aditama (Guru Besar Fakultas Kedokteran UI), Dieny Tjokrosuprihatono (Dewan Pakar DPP Partai NasDem), dan Ahmad Arif (Jurnalis Kompas), sebagai penanggap. Menurut Lestari yang akrab disapa Rerie, selama lebih dari satu setengah tahun ini diakui anak-anak kehilangan kehidupan yang diwarnai keceriaan bermain bersama teman-temannya, karena harus tetap tinggal di rumah bersama keluarga. Namun, ujar Rerie, dengan semakin ganasnya varian Covid-19 saat ini upaya untuk membuka interaksi sosial anak di luar rumah harus dipertimbangkan lagi secara matang. Saat ini, ujar Legislator NasDem itu, sejumlah negara sudah memilih melonggarkan protokol kesehatan (Prokes) di area publik. Di negara lainnya, ada yang tetap mewajibkan prokes ketat untuk menghindari ledakan kasus, akibat varian baru Covid-19. Menurut anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, pilihan-pilihan kebijakan dari berbagai negara itu harus menjadi pembelajaran bagi kita dalam menghadapi gelombang baru sebaran Covid-19 di Tanah Air. Apalagi, tegas Rerie, paparan Covid-19 saat ini juga menjangkau anak-anak. Saat ini, ujar Rerie, kita masih berada di tengah ujian dalam menghadapi ledakan kasus positif Covid-19 di sejumlah daerah. "Mari memperkuat disiplin kita dan keluarga dalam menerapkan protokol kesehatan, agar anak-anak terlindungi dari paparan Covid-19," tegasnya. Jubir Satgas Percepatan Penanganan Covid-19, Bambang Supriyanto mengungkapkan, pada awalnya anak-anak tidak menjadi perhatian, tetapi karena kasusnya terus meningkat sehingga membutuhkan kewaspadaan bersama. Berbicara ancaman Covid-19 terhadap anak, kata Bambang, tidak bisa melulu berdasarkan pertimbangan angka-angka, tetapi harus dilihat dari potensi yang hilang dari generasi penerus bangsa, bila terjadi kematian anak-anak. Dia menyarankan, agar dilakukan penundaan pembelajaran tatap muka (PTM) untuk mengantisipasi peningkatan paparan Covid-19 terhadap anak-anak. Karena, kesiapan PTM harus datang dari semua pihak tidak hanya kesiapan dari pemerintah. Sedangkan Retno Listyarti mengatakan anak-anak terpapar Covid-19 sebagian besar karena terciptanya klaster keluarga. Sementara dalam uji coba PTM di berbagai daerah, ungkap Retno, terlihat belum siapnya sejumlah pihak untuk menjamin pelaksanaan PTM berjalan dengan aman dan efektif. Komisioner KPAI itu berharap dalam pelaksanaan PTM harus dilibatkan secara aktif dinas kesehatan di daerah terkait, untuk memastikan keamanan anak-anak dari sisi kesehatan dalam proses belajar. Kunci dalam meningkatkan perlindungan anak-anak di masa pandemi ini, ujar Retno, adalah penguatan ketahanan keluarga, penguatan testing, tracing dan treatments (3T), dan lengkapi imunisasi dasar balita dan anak-anak. Orang tua, jelas Retno, harus menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam menjalankan disiplin melaksanakan prokes dalam keseharian. Juru Bicara Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan lonjakan kasus positif Covid-19 yang terjadi saat ini disebabkan masih tingginya mobilitas masyarakat dan sebagian lainnya abai menerapkan prokes. Nadia mengingatkan, agar masyarakat mewaspadai titik lengah, seperti antara lain saat makan bersama di rumah makan dan pertemuan keluarga, di fase-fase ini anak-anak rawan sekali terpapar Covid-19. Menurut Nadia, sosialisasi bahwa vaksinasi Covid-19 terhadap anak itu penting. Namun, lebih penting lagi setelah divaksin anak-anak juga dibiasakan menerapkan prokes dalam keseharian. Sedangkan Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Community Development Universitas Airlangga Surabaya, Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengungkapkan, virus akan selalu menyesuaikan diri dengan lingkungannya agar bisa tetap survive. Sehingga, mutasi virus korona akan terus terjadi. Jadi, jelas Ni Nyoman, hanya dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan yang ketat seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun dan menghindari kerumunan, kita bisa menekan risiko terpapar Covid-19.(*)