Jakarta – Masa uji kepatutan dan kelayakan calon duta besar Indonesia untuk negara-negara sahabat di DPR sudah memasuki hari keempat. Sebanyak 33 nama usulan pemerintah diuji kapasitas dan kapabilitasnya untuk memimpin korps diplomatik Indonesia. Seperti diketahui banyak calon duta besar yang diusulkan pemerintah disinyalir merupakan titipan partai. Hal ini menjadi masalah tersendiri dalam proses pengujian di DPR. Sejumlah anggota Komisi Luar Negeri DPR bersuara terkait minimnya calon Duta Besar yang memenuhi kualifikasi kelayakan dan kepatutan. Suara inipun akhirnya memperoleh atensi besar dari publik. Pasalnya, duta besar yang kurang mempunyai kapabilitas dituding akan menghambat program penarikan investasi dari luar negeri besar-besaran yang digaungkan oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu silam. Anggota Komisi Luar Negeri DPR dari Fraksi Partai NasDem Bachtiar Aly menyampaikan catatannya bahwa sampai hari terakhir tahapan uji patut dan kelayakan yang sudah diinisiasi sejak hari Senin (13/9) yang lalu, setidaknya 25 persennya memiliki kompetensi yang menonjol. Angka tersebut merupakan angka kumulatif dan jumlahnya bisa bertambah karena proses pengujian masih berjalan sampai hari ini, Kamis (17/9). “Yang berkompeten dan menonjol sampai saat ini baru 25 persen lah,” ungkap legislator asal Aceh tersebut. Bagi calon dubes yang dinilai kurang menonjol, Bachtiar tidak dengan gampang menjustifikasinya karena banyak faktor yang mempengaruhi. Dia menjelaskan faktor pertama yang bisa membuat rendahnya performance calon dubes dalam uji kepatutan dan kelayakan adalah demam panggung yang sering terjadi, sehinga presentasi yang dilakukan dihadapan anggota dewan menjadi tidak maksimal. Faktor lainnya adalah jam terbang yang kurang. Kebanyakan mereka adalah pendatang baru sehingga terkesan tidak memahami permasalahan di negara yang akan menjadi area tugasnya. Namun untuk alasan yang kedua ini, Bachtiar lebih menekankan proses belajar, keuletan, dan integritas dari para calon dubes yang harus ditingkatkan. Hal ini merujuk dari target pemerintah yang menjadikan para dubes Indonesia sebagaimarketing Indonesia Inc-nya negara. “Kita jangan apriori dulu dalam menilai karena ada juga yang nervous, jadi performanya kurang padahal tidak bodoh. Juga jam terbangnya mempengaruhi bagaimana mereka menyampaikan program-programnya. Kalau yang kurang jam terbang bisa kelihatan. Tapi yang menonjol itu sudah dipastikan jam terbangnya sudah baik,” jelas Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia ini. Ketika dicoba dikonfirmasi mengenai calon duta besar yang kemungkinan besar gugur dalam fit and proper test, Bachtiar Aly bergeming. Menurutnya, masih ada tahapan lanjutan dimana rapat internal akan membahas bagaimana sikap Komisi I terhadap calon dubes yang dinilai kurang kompeten. Ia tidak mau melangkahi proses yang masih berjalan di komisinya karena setiap anggota mempunyai pandangan yang berbeda terhadap masing-masing calon. “Masih ada rapat lanjutan, kita tunggu saja sampai itu tiba,” ujarnya. Bachtiar mengisyaratkan akan ada kesempatan bagi calon yang dinilai bermasalah dalam performance­-nya untuk memperbaiki segala hal. Baik dari sisi konten maupun program yang diusung. Kesempatan ini dibuka karena diyakini bahwa yang bermasalah dari para calon duta besar tersebut bukan pada kompetensinya. Akan tetapi bagaimana para calon tersebut gigih untuk mempelajari dan berbuat terbaik di negara tujuannya. “Kita memberikan kesempatan dengan memberikan refleksi secara tertulis. Jadi yang kurang-kurang di situ bisa ditutup,” ungkapnya mengakhiri.