Jakarta – Anggota Komisi XI Donny Priambodo mengkritisi wacana masuknya Indonesia menjadi anggota Trans Pacific Partnership (TPP). Wacana ini muncul dalam sesi kunjungan Presiden Jokowi ke Amerika Serikat, di mana di hadapan Obama, Jokowi menyampaikan minatnya untuk memasukkan Indonesia dalam persetujuan dagang beranggotakan 12 negara itu. “Kalo memang syaratnya memberatkan dan negara kita belum siap, itu tidak perlu. Jika memang syaratnya merugikan, untuk apa?†Ungkap Donny saat diwawancara di gedung Nusantara I, Senayan, Rabu (28/10). Sebagaimana disorot oleh banyak kalangan, skema kerjasama TPP menyertakan persyaratan yang dianggap Donny merugikan Indonesia. Beberapa di antaranya yaitu prasyarat swastanisasi BUMN, deregulasi ekspor dan impor, sistem perburuhan dan hak milik intelektual. Legislator dari Jawa Tengah ini menyorot tajam prasyarat swastanisasi BUMN yang akan berdampak langsung pada pelemahan peran negara terhadap pasar. Ia mengungkapkan bahwa swastanisasi BUMN merupakan pintu masuk bagi serbuan produk negara lain ke pasar domestik secara cepat dan masif. “Kalau BUMN kita kuat kemudian diswastanisasi, artinya mereka bisa kontrol semuanya. Kalau diswastanisasi, yang ngontrol semuanya pasar. Kalau misalkan kapitalnya tinggi, dibeli itu perusahan. Habislah kita,†tandas politisi Fraksi NasDem ini. Ia mengingatkan presiden agar tak tergesa-gesa mengambil keputusan. Meski Sofyan Wanandi menyebut bahwa Indonesia baru bisa masuk anggota TPP dalam tempo dua hingga tiga tahun ke depan, Donny mengingatkan, setidaknya ada dua hal harus diperhatikan. Pertama, proteksi industri dalam negeri, dan kedua  volume ekspor dan impor Indonesia. Keduanya harus seimbang agar bisa menciptakan neraca perdangan yang resiprok (saling berbalas – red) satu sama lain. “Volume itu harus dikompromikan, jadi resiprokal itu, sama-sama. Kalau dia open kuota, yang rugi kita. Kita juga harus memproteksi pasar dalam negeri dan produk-produk yang kita bisa dibuat sendiri, kecuali terhadap produk-produk yang tidak bisa kita bikin boleh saja impor,†pungkasnya.