Prananda Surya Paloh: KAA Bukan Memorabilia Saja, Namun Juga Kebutuhan Zaman

21 APRIL 2015, 11:14:50 WIB 3 MENIT BACA 1461

Jakarta – Konferensi Asia Afrika (KAA) yang telah dibuka pada hari Minggu kemarin, menuai optimisme bagi anggota Komisi I DPR-RI, Prananda Surya Paloh. Ia menilai KAA berpengaruh terhadap posisi tawar Indonesia di mata internasional. Dalam usia republik yang menginjak 70 tahun ini, Prananda menganggap ajang KKA masih mengusung semangat yang sama.

“Dengan dibahasnya nasib bangsa Palestina di KAA, mencerminkan tujuan kita, bahwa bersama konferensi ini masih menunjukkan konsistensi sejak 60 tahun lalu. Untuk memastikan tidak ada lagi penjajahan suatu bangsa atas bangsa yang lain,” ungkapnya pada Senin (20/04).

Nanda, demikian sapaan karibnya, menyebutkan bahwa momen KAA ke-60 ini harus bisa menjadikan Indonesia sebagai negara penting dalam proses perdamaian dan kekuatan ekonomi. “Kondisi saat ini memang tak sama dengan KAA tahun 1955 dulu, sekarang ini bergeser dari suasana konflik pasca PD II menjadi suasana saling memperkuat ekonomi melalui keterkaitan kepentingan dan potensi negara,” paparnya.

Prananda melihat KAA bukanlah memorabilia, namun harus tetap berevolusi sesuai dengan kebutuhan zaman. “Jika dulu semangat KAA adalah independensi terutama dari bipolar kekuatan dunia, sekarang hendaknya dimaknai dalam semangat interdependensi, atau kesadaran saling membutuhkan dan ketergantungan antar seluruh bangsa. Globalisasi bukanlah ancaman namun sebaliknya itu adalah kesempatan. Indonesia harus menyiapkan diri,” cetusnya.

Namun Nanda juga melihat kemungkinan sisi lain dari hubungan antar negara dalam percaturan internasional. Menurutnya, negara KAA harus sadar dengan penyebab sejarah panjang penjajahan bangsa asing di Asia dan Afrika.

“Saat ini yang menjadi tantangan adalah imperialisme modern, raksasa korporasi lintas negara yang berpotensi melakukan eksploitasi manusia maupun alam. Ini adalah sebuah tantangan yang harus diantisipasi,” terangnya.

Prananda yakin, posisi Indonesia di Asia yang juga berada di garis khatulistiwa, membuat posisi tawarnya semakin kuat dengan menjadi sentral untuk dua benua. “Asia Afrika ditempati oleh 70% populasi dunia, sesungguhnya pasar yang pontensial bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi komoditi ekspor. Karena seharusnya dengan KAA ini, Indonesia adalah negara yang memang dianggap sebagai pemain penting di dua benua ini,” jelas politisi asal dapil Sumut ini.

Sehubungan dengan KAA, DPR RI juga akan mengadakan Pertemuan Parlemen Negara Asia-Afrika pada 23 April 2015 nanti. Selaku anggota BKSAP (Badan Kerjasama Antar Parlemen), Prananda mengatakan dari pertemuan tersebut, DPR-RI bakal mendapatkan masukan banyak hal terkait perundang-undangan dan sistem pertahanan negara.

“Mengenai produk undang-undang di Komisi I, dan hubungannya dengan diplomasi, kita harus banyak belajar dan berbenah. Seharusnya,  foreign policy bisa melahirkan security policy, di mana kebijakan luar negeri menjadi ujung tombak dari kebijakan keamanan. Bukan terpisah-pisah,” imbuhnya. Selain itu, Prananda mengandaikan jika kebijakan di berbagai kementerian dan badan tidak integratif, akan terjadi ketidakharmonisan dalam penanganan persoalan diplomasi Indonesia. (MCNasDem)