Derasnya arus global yang mempertemukan berbagai nilai adalah tantangan yang harus dihadapi Indonesia di abad 21 nan modern ini. Selain adanya produksi mesin-mesin yang mendorong lahirnya kegiatan dan produk massal, salah satu alat yang memungkinkan dialektika antar nilai adalah teknologi informasi. Di satu sisi, pekerjaan manusia menjadi lebih praktis dan efisien yang merupakan ciri dari industrialisasi. Nilai-nilai yang juga cerminan dari cara hidup dan budaya dengan begitu saja bisa menjelma menjadi komoditi. Seringkali sifat ekonomis menjadi satu-satunya ukuran.Di lain sisi, nilai universalisme tumbuh makin pesat seiring dengan kesadaran bahwa pada dasarnya manusia itu sama, di belahan bumi mana pun. Akibatnya, batas-batas negara seakan-akan menjadi tidak relevan. Hanya saja, nilai-nilai yang berkembang di dunia yang kian membentuk sebuah ‘kampung global yang terintegrasi’ ini tak mampu menyembunyikan bahwa persaingan antar bangsa senantiasa terjadi. Akibatnya, krisis multidimensi selalu jadi ancaman yang nyata. Bagaimanapun, fakta adanya negara sesungguhnya menunjukkan adanya prioritas kepentingan nasional. Hal itu pulalah yang menjadi titik pijakan Johnny G Plate ketika berbicara soal kebangsaan di tengah-tengah masyarakat dan konstituennya di Aula Grand Wisata Ende, Nusa Tenggara Timur. Johnny yang merupakan legislator dari Fraksi Nasdem dan duduk Komisi XI DPR RI, menemui masyarakat dalam masa reses dan sosialisasi empat pilar kebangsaan.Empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Dan bagi Johnny, dengan kondisi Indonesia yang tengah berupaya menyelesaikan krisis multidimensi ini menjadikan ideologi kebangsaan dapat perlahan-lahan hilang. “Ideologi kebangsaan harus dapat diterjemahkan dalam situasi kekinian, mampu menjawab persoalan bangsa, dan pula bisa membawa anak bangsa ini menjadi bangsa yang berkarakter. Dari sanalah empat pilar kebangsaan menjadi konsep yang harus dapat dipahami oleh setiap elemen anak bangsa. Karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat humanis, dan memang mampu menjawab persoalan kebangsaan, bernilai universal, dan berbasiskan pada kemanusiaan,” tegasnya.Johnny yang juga Wakil Ketua Fraksi Nasdem ini menyatakan faktor eksternal seperti globalisasi membawa persaingan antar bangsa semakin tajam serta kuatnya pengaruh budaya asing. Lebih dari itu, Indonesia pun kurang sarana teknologi industri dalam perumusan kebijakan negara. Sedangkan faktor internal, rendahnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dan pemahaman terhadap ajaran agama yang sempit menjadi tantangan yang harus diperhatikan secara serius. Lunturnya nilai-nilai Pancasila juga mengikis penghargaan anak bangsa terhadap kemajemukan. Tak pelak, empat pilar kebangsaan menjadi penting, tidak saja berfungsi sebagai penyaring pengaruh globalisasi, melainkan juga sebagai jati diri bangsa. Dalam sosialisasi ini, selain Johnny G. Plate sendiri sebagai pembicara, juga turut hadir pemateri lainnya seperti Romo Dr. Domi Nong, Pr dan Ketua MUI Cabang Ende Haji Djamal Humris. Dalam masa reses II ini, Johnny pun menegaskan pemahaman empat pilar kebangsaan ini juga merupakan komitmen MPR/DPR untuk terus memasyarakatkan dan menyosialisasikan nilai-nilai tersebut kepada seluruh masyarakat Indonesia. Politisi NasDem itu juga mengungkapkan, selain sosialisasi empat pilar kebangsaan, dirinya juga memanfaatkan masa reses untuk berdialog dan menyerap seluruh aspirasi masyarakat khususnya konstituennya di Derah Pemilihan NTT I.