Jakarta – Tokoh muda Jakarta, Ahmad Sahroni menilai sikap pantang menyerah Gubernur Ahok dalam mewujudkan target Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 20 persen dari total wilayah DKI Jakarta patut diapresiasi. Hingga akhir 2015, luas RTH Jakarta baru tercatat 9,98 persen dari total 661,52 km persegi luas Provinsi DKI Jakarta. Berarti masih ada sekitar 62 km persegi lagi kekurangan pemerintah daerah untuk mengejar target luas RTH sesuai amanat undang-undang. Namun demikian, menurut “Si Entong dari Priok†ini, untuk memenuhi kebutuhan ruang publik, membangun RTH saja tidaklah cukup. Pemerintah daerah DKI, menurutnya, harus mulai mengarahkan penataan tata ruangnya untuk ruang publik berbagai usia. Fasilitas tersebut bisa berupa lapangan yang didesain khusus untuk aktivitas hobi berbagai komunitas. Kota yang menurutnya sukses menjalankan program ruang publik komunitas itu yakni Surabaya. Kota yang dipimpin wanita tangguh Tri Rismaharini ini, menurut Roni, sudah layak disebut kota ruang publik nomor wahid. “Surabaya berhasil membangun fasilitas publik untuk merangsang dinamika komunitas. Di Taman Bungkul misalnya, yang dilengkapi ruang pertunjukan, fasilitas skateboard dan BMX,†tutur Politisi berusia 38 tahun ini di ruang kerjanya di komplek parlemen, Jakarta (02/03). Baginya, ketersediaan fasilitas untuk komunitas ini menyimpan potensi efek domino yang panjang. Generasi muda Jakarta bisa terpacu lebih kreatif menjalankan aktivitas-aktivias positif, sekaligus bisa meminimalisir kebiasaan tawuran atau pun konsumsi narkoba. Dalam hematnya, tawuran dan berbagai tradisi negatif yang biasa dilakukan remaja Jakarta seara tak langsung adalah efek dari kurangnya sarana dan fasilitas komunitas. Minimnya saluran aktivitas positif itu membuat kalangan remaja dan pemuda menyalurkannya pada aktivitas negatif. Untuk warga berusia lanjut, anggota Komisi XI DPR RI ini menilai Pemda DKI perlu menyediakan ruang-ruang untuk menyalurkan aktivitas kesehatan. “Di China, atau di lapangan Tegalega Bandung, banyak yang kumpul di lapangan untuk senam, taichi, aerobic dan lainnya,†tukasnya. Terkait pemanfaatan ruang, Roni menyarankan Pemda DKI tak hanya merevitalisasi lahan-lahan taman. Menurutnya, Gubernur Ahok perlu mengoptimalkan ruang-ruang yang selama ini disalahgunakan oleh masyarakat. Dia mencontohkan, keberadaan kolong-kolong jembatan yang selama ini hanya jadi ruang kosong atau taman tak terawat, bisa digunakan untuk keperluan ruang publik di atas. Politisi Partai NasDem dari Dapil Jakarta III ini menyayangkan adanya ruang-ruang potensial yang selama ini justru memicu tumbuhnya ruang-ruang kumuh. “Penertiban di bawah jalan layang tol Grogol-Pluit itu memang seharusnya dilakukan. Tapi juga harus dipikirkan nanti untuk apa lahan itu. Kalau gak digunakan malah nanti ada yang nempatin lagi itu kolong jembatan,†ungkapnya. Dia juga menyebut pengalaman Bandung, yang bisa dirujuk sebagai best practice di mana Ridwan Kamil menyulap kolong jembatan Pasteur menjadi area taman Film. “Gubernur Jakarta jangan kalah kreatif dalam menyulap ruang-ruang kosong di kota. Bandung saja bisa, pasti Jakarta juga bisa,†tutupnya