Surya Paloh, Pidato dan Pilkada Serentak

22 SEPTEMBER 2015, 14:22:21 WIB 4 MENIT BACA 1372

Jakarta – Dengan langkah penuh optimisme, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh berjalan menuju podium. Pria yang sudah cukup dikenal dalam panggung politik Indonesia ini berjalan mantap ketika pemandu acara dengan sumringah mempersilahkannya ke mimbar berlatar belakang bendera dengan gambar tangan memeluk.

Berlatar Ornamen yang didominasi warna biru, suara berat Surya Paloh membuka pidato dalam Rapat Kerja Nasional III Partai NasDem yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan Jakarta, Senin (21/9). 

“Ini adalah tahun ke-4 perjalanan Partai NasDem, tentu kita tidak harus berpuas diri dengan yang kita capai saat ini. Sejumlah pekerjaan rumah berada dihadapan kita. Terutama sejauh mana kekuatan kita mengkonsolidasikan semuanya agar mesin partai kita mampu bergerak secara terus menerus," ujar Surya membuka pidato.

Bagi Surya Paloh, pidato sepertinya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupannya. Sebagai politisi, sebagai seorang yang sudah meniti karir politik sejak mudanya, pidato memang menjadi minat dan perhatiannya. Sebab, langsung atau tidak, politik selalu bersentuhan dengan massa; dan pidato menjadi keniscayaan di dalamnya. Tidak heran jika sosok Bung Karno adalah sosok idolanya.

Saat masih berada di partai lamanya, Surya pernah berkomentar tentang gaya pidato Akbar Tandjung. Seperti tercatat dalam buku biografinya, menurut Surya gaya speech Akbar kurang memadai sebagai orator. Karena itulah, bagi pria kelahiran Aceh 64 tahun yang lalu itu, pidato ‎selalu penting dalam kegiatan-kegiatan politiknya. Dan seiring dengan hal itu, sosoknya pun menjadi identik dengan seorang orator.

Meski sudah menginjak usia kepala enam, hari itu pidato Surya tetap memesona para pengurus DPP, DPW, termasuk para anggota DPR yang hadir. Memelihara konsentrasi pendengarnya, di sela-sela suara baritonnya, sesekali dia mengeluarkan kelakar-kelakarnya. Gelak tawa pecah menyeruak ruangan, namun segera berhenti saat sang orator memulai kembali pidatonya.

“Tentu dalam persiapan kita melangkah pada Pilkada serentak ini tidak cuma-cuma. Bukan satu lembaga survei, atau dua lembaga survei yang kita gunakan tetapi, empat lembaga survei. Ini memerlukan ongkos yang besar, sedangkan iuran anggota kita belum berjalan,” sontak para peserta tertawa, disusul riuhnya tepukan tangan.

Dalam pidato yang monumental tersebut, Surya menekankan para pamangku jabatan teras Partai, mulai dari DPP hingga ranting, untuk bekerja keras. Menurutnya, peserta yang datang dalam Rakernas merupakan tiang pancang keberhasilan Pilkada yang akan diselenggarakan pada 9 Desember 2015 nanti. Untuk itu, pola kerjasama antara pimpinan seperti DPW dan struktur partai yang ada harus memastikan kemenangan bagi calon kepala daerah yang Partai NasDem usung.

“Inilah yang sebenarnya kekuatan utama yang kita miliki, yaitu saudara-saudara semuanya yang ada di ruangan ini. Tentu sebagai seorang Ketua Umum boleh berharap bahwa seharusnya dalam upaya membangun soliditas bersama-sama. Itu adalah hal yang wajib yang kita laksanakan," katanya berapi-api.

Dalam rangka pemilihan calon pimpinan daerah yang dilakukan oleh Tim 7 (tim khusus pemenangan Pilkada NasDem) sejak awal tahun ini diakui oleh Surya Paloh memiliki tantangan tersendiri.

Dia menyebutkan kendala pertama yang dihadapi tim khusus pemenangan Pilkada NasDem ini adalah masih terjangkitnya penyakit politik transaksional di tengah masyarakat.

Surya mengungkapkan, tidak jarang Tim 7 yang dikomandoi oleh Enggartiasto Lukita diiming-imingi uang yang tidak sedikit jumlahnya. Namun, hal ini disadarinya merupakan risiko dari setiap pilihan politik yang telah dijalankan partai NasDem yang menolak melakukan transaksi semacam ini.

Selanjutnya, dia menyebutkan dua parameter penting yang menjadi landasan NasDem untuk mendukung pasangan calon. Pertama, adalah elektabilitas yang tinggi dan kedua, kapabilitas kepemimpinan pasangan calon.

Seorang calon kepala daerah, menurut Surya, memang dituntut memiliki tingkat elektabilitas yang tinggi karena modal sosial ini paling menentukan tingkat keterpilihan sang calon. Sementara kapabilitas, adalah faktor yang akan menunjang sang calon kepala daerah dalam melaksanakan kepemimpinannya di daerah.

Walau hanya dua variabel yang digunakan, dia menyebutkan, ternyata banyak yang kecewa karena tidak terpilih sebagai calon tetap. Kekecewaan tersebut bentuknya macam-macam, seperti pengunduran diri bahkan pengancaman. Dalam hal ini, Surya Paloh mengingatkan para peserta bahwa itu semua adalah risiko dari sebuah pilihan yang tidak harus menyenangkan semua pihak.

Rakernas tersebut merupakan agenda yang penting bagi Partai NasDem dalam rangka mengonsolidasikan seluruh kadernya di tingkat DPP dan DPW dan anggota DPR Fraksi NasDem. Pasalnya, inilah kali pertama dalam sejarahnya Partai NasDem akan mengikuti pilkada dimana para kadernya memiliki peluang mengisi pos-pos jabatan publik di daerah.

Sebagai informasi, dari 269 daerah yang menyelenggarakan pilkada, Partai NasDem mengusung 255 calon. Angka ini terpaut 14 saja dari jumlah total daerah yang akan melaksanakan pilkada langsung. Di daerah di mana NasDem tidak mengajukan usulan calon adalah murni karena pertimbangan berdasarkan parameter yang telah ditetapkan sebelumnya.

Partai NasDem sendiri mendukung lima calon independen dalam proses Pilkada langsung yang akan berlangsung akhir tahun ini. Dan ini merupakan hal yang tidak biasa dilakukan oleh parpol, namun NasDem melakukannya.