KUPANG (26 Juli): Hamparan lahan kering di Oefeto, Kabupaten Kupang, perlahan berubah wajah. Di atas tanah yang selama ini identik dengan panas dan keterbatasan air, bibit-bibit sorgum mulai ditanam, menghadirkan optimisme baru bagi masa depan pertanian Nusa Tenggara Timur (NTT).Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem dari Daerah Pemilihan NTT II, Viktor Bungtilu Laiskodat, meninjau langsung pengelolaan lahan tersebut sebelum melanjutkan kunjungan ke Oesao untuk melihat pengembangan pertanian tomat. Menurut Viktor, kekuatan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh luas lahan yang digarap, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan inovasi, teknologi, dan nilai tambah bagi hasil panen masyarakat.“Petani adalah tulang punggung perekonomian bangsa. Karena itu, peningkatan produktivitas pertanian harus ditopang teknologi yang modern, efisien, dan ramah lingkungan. Kita juga harus menguasai rantai pasok dari hulu hingga hilir agar hasil pertanian memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar Viktor.Di Oefeto, Viktor meninjau lahan kering seluas sekitar 23 hektare yang kini dikembangkan untuk penanaman sorgum. Baginya, pemanfaatan lahan dengan tanaman yang adaptif menjadi salah satu jawaban atas tantangan perubahan iklim sekaligus upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.“Sorgum merupakan tanaman yang sangat tangguh. Tanaman ini mampu bertahan di tengah cuaca panas dengan kebutuhan air yang relatif sedikit. Pada musim kemarau, sorgum dapat menjaga ketersediaan pangan sekaligus menjadi sumber pakan ternak yang penting bagi masyarakat,” katanya.Dari Oefeto, perjalanan berlanjut ke Oesao. Di kawasan ini, Viktor melihat peluang besar pada pengembangan tomat sebagai komoditas hortikultura unggulan. Tingginya permintaan pasar, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan industri, dinilai membuka ruang yang luas bagi peningkatan nilai tambah melalui pengolahan hasil panen.“Tomat tidak berhenti sebagai hasil panen di kebun. Komoditas ini dapat diolah menjadi saus maupun berbagai produk lain yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Di sinilah hilirisasi menjadi penting agar manfaat ekonomi tetap berada di daerah dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.Viktor menegaskan, pembangunan sektor pertanian harus dipandang sebagai strategi membangun ekonomi desa secara menyeluruh. Keberhasilan sebuah kawasan pertanian, menurut dia, tidak semata-mata diukur dari besarnya produksi, melainkan dari dampak yang dirasakan masyarakat di sekitarnya.“Saya selalu melihat keberhasilan pertanian dari manfaat yang dihadirkannya bagi kehidupan masyarakat. Ketika kebun dikelola dengan baik, lapangan kerja tercipta, usaha-usaha lokal tumbuh, ekonomi keluarga menguat, dan desa berkembang dengan kekuatannya sendiri. Itulah pembangunan yang terus saya perjuangkan,” tutur Viktor.Ia berharap pengembangan kawasan pertanian di Kabupaten Kupang dapat menjadi contoh bagaimana lahan-lahan yang selama ini kurang produktif mampu dioptimalkan melalui pendekatan yang tepat, didukung teknologi, serta terhubung dengan industri pengolahan. Dengan demikian, setiap hasil panen tidak berhenti sebagai komoditas mentah, melainkan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat pedesaan. (bronto/*)