Yayuk Tekankan Penghayatan terhadap Pancasila

16 JUNI 2017, 07:31:11 WIB 2 MENIT BACA 1125
Jakarta - Selama ini implementasi Pancasila dalam sistem yang dijalankan dalam aturan tatanegara kita masih sebatas lip service. "Ia hanya digunakan dalam forum resmi kenegaraan," kata Yayuk Sri Rahayuningsih, anggota MPR RI di hadapan ratusan warga masyarakat dalam kegiatan sosialisasi empat pilar kebangsaan di Aula SDN Gandusari, Kecamatan Gandusari, Trenggalek, Jatim, beberapa waktu lalu. Dia menegaskan, Pancasila adalah satu bagian dari empat pilar kebangsaan yang telah menjadi tekad bersama. Ia harus selalu ditanamkan dalam benak sanubari setiap warga Negara Republik Indonesia. Terlebih setiap 1 Juni diperingati sebagai momen lahirnya Pancasila. "Dengan demikian Pancasila adalah cikal bakal kemerdekaan bangsa Indonesia," imbuh Yayuk. “Bangsa ini sudah mengalami dekade di mana Pancasila tidak disosialisasikan dengan benar kepada masyarakat Indonesia. Maka sekarang ini sudah tidak ada alasan lagi untuk itu, nilai-nilai hakiki yang ada didalam Pancasila wajib tertanam dalam setiap individu bangsa Indonesia,” lanjutnya. Selain itu, kata Yayuk, kebijakan pembentukan Unit Kerja Presiden bidang Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP PIP) yang berada langsung di bawah komando Presiden Joko Widodo merupakan langkah tepat untuk mengamankan nilai-nilai Pancasila. Dan ia pun mengajak kepada ratusan warga masyarakat di Trenggalek tersebut untuk tidak ikut ke dalam  arus friksi-friksi yang sekarang mulai berkembang di masyarakat. Sementara itu, Habib Assegaf, tokoh pemerhati bangsa sekaligus advokat dari Ngawi, yang turut hadir dalam kegiatan sosialisasi empat pilar menekankan, semua yang dikatakan Yayuk salah satu Srikandi MPR RI sebagai perwujudan bersama untuk mempertahankan arti Kebhinekaan dan persatuan bangsa Indonesia. “Seperti diketahui, di bulan Juni ini ada momen bersejarah bagi bangsa kita akan lahirnya Pancasila. Mengapa demikian, lahirnya Pancasila mengingatkan kembali bahwa negeri ini kan ada dari Aceh sampai Papua, berdiri di atas begitu banyak perbedaan, dari agama hingga suku, yang semestinya bukannya memecah, tapi harus merekatkan kita,” tandas Habib Assegaf.