Oleh Joice Triatman * Kita semua berduka mendengar tragedi Paris pada Jumat (13/11) kemarin. Mungkin tak satupun orang menyangka kejadian begitu dramatis itu bisa terjadi dengan spontan di enam lokasi berbeda secara bersamaan, di kota yang dikenal paling romantis di dunia itu. Tapi nyatanya itu terjadi, dan hampir dua ratus nyawa seolah melayang begitu saja. Yang membuat semua terhenyak adalah tiadanya sangka bahwa hal itu bisa terjadi di kota senyaman Paris. City of Lights itu tiba-tiba menjadi kota paling mencekam. Status darurat pun diberlakukan. Seandainya Paris adalah medan perang, atau kota yang sudah "biasa" dihiasi dentuman bom dan senapan, mungkin tidak terjadi keterhenyakan itu. Sebab, seperti dinyatakan oleh Presiden Suriah Bashar Al Assad, apa yang terjadi di Paris telah terjadi di Suriah selama lima tahun lamanya. Dan selama ini kita semua tidak ada yang terhenyak dengan keadaan di Suriah. Di titik ini, media adalah faktor signifikan kedua. Tanpa media, kita semua tidak akan pernah ikut merasakan bagaimana keterhenyakan itu terjadi. Media telah membantu sekaligus menyajikan ruang bagi publik untuk ikut merasakan apa yang terjadi. Ini sama halnya dengan dana tunjangan anggota DPR yang pernah mengusik - dan lagi-lagi membuat terhenyak - publik pada September lalu. Saat isu tersebut mengemuka di media, semua perhatian tertuju kepadanya. Berbagai lapisan masyarakat mengutuk kebijakan tersebut. Anggota dewan sendiri pun tak ketinggalan ikut menggugatnya. Mereka ramai-ramai mengaku tidak tahu-menahu dan menyatakan menolak kenaikan dana tunjangan. Praktis, dari sepuluh fraksi yang ada, saat itu hanya satu fraksi yang menyatakan menerima. Beriringan dengan itu, skandal pimpinan DPR dengan Donald Trump pun meredup. Dan kini, sudah sebulan dana tunjangan tersebut itu cair. Namun baru Fraksi NasDem yang bersikap secara clear dan tegas: mengembalikan dana tersebut kepada pihak Kesetjenan sekaligus meminta agar dibuat sistem auto rejection terhadap dana yang masuk secara otomatis ke rekening tiap-tiap anggotanya. Tidaknya hanya secara simbolik, Fraksi NasDem bahkan mengembalikan dana tunjangan secara akumulatif dari bulan Juli hingga September. Selain NasDem, rasanya kita belum mendengar fraksi lain memanifestasikan apa yang pernah mereka nyatakan dengan lantang itu dulu. Memang ada beberapa personal yang mengaku akan menghubungi Setjen DPR guna pengembalian kenaikan dana tunjangan. Sebagian yang lain mengaku mengalihkan dana tersebut untuk kegiatan sosial. Tapi sayangnya, bukan itu yang kita nantikan. Komitmen pada apa yang telah dinyatakan, itulah yang tentu publik nantikan. Sebab, satunya kata dan perbuatan adalah yang cermin dari integritas para anggota dewan kita yang terhormat. Hanya saja hampir semua kita mafhum, publik kita sering cepat lupa. Jika sesuatu telah melewati fase sensasinya, saat itu pula mereka (me)lupa(kannya). Apalagi jika media juga ikut "lupa". Dengan serta-merta semua akan lupa. Anggota dewan pun mungkin ikut lupa bahwa di rekeningnya sudah ada tambahan dana yang dua bulan lalu lantang ditolaknya. Jangan-jangan di sinilah PR-nya: bagaimana mengingatkan kembali media. Namun kita pun tahu, media tidak akan dengan sendirinya melakukan itu. Media butuh "partner" untuk berkolaborasi menunaikan fungsi kontrolnya. Dan oleh karena itulah tulisan ini dibuat. Tidak hanya untuk mengingatkan kita akan peristiwa lalu, namun juga mengingatkan bahwa apa yang terjadi saat ini tidak akan lepas dari apa yang terjadi di masa lalu. Kita harus belajar, bahwa kejadian di Paris tidak lepas dari peristiwa yang mendahuluinya. Oleh karena itu, agar DPR mampu menjaga kehormatan dirinya di masa kini dan mendatang, kita harus ingatkan ucapannya di masa lalu. *Direktur Media Center Fraksi Partai NasDem DPR RI