Bioteknologi Jawab Kebutuhan Swasembada Pangan

20 NOVEMBER 2015, 00:07:42 WIB 3 MENIT BACA 1149
Jakarta - Kondisi kemarau sangat panjang atau El Nino tak hanya memicu kebakaran lahan, tapi juga memerosotkan tingkat produksi pangan, khususnya padi. Hal serupa bisa terjadi saat musim penghujan, di mana tak sedikit lahan pertanin tergenang, menyebabkan padi gagal panen. Untuk memecah kebuntuan kondisi iklim ini, perlu terobosan teknologi pertanian, salah satunya dengan memanfaatkan bioteknologi. Dengan bioteknologi, akan tercipta rekayasa genetika tanaman pangan yang resisten terhadap perubahan iklim, sehingga cuaca ekstrim tak akan mengganggu produktivitas pangan, dan tidak menimbulkan kerugian besar pada petani. Anggota Komisi IV DPR Sulaeman L Hamzah menyayangkan masih minimnya pemanfaatan bioteknologi di Indonesia ini. Menurutnya, semua itu terkait kondisi sektor pertanian Indonesia yang masih bergantung pada bahan kimia (pestisida). Oleh karena itu, untuk mengurangi penggunakan pestisida, butuh teknologi lain untuk meningkatkan produktivitas panen. “Dari waktu ke waktu, saya kira itu (bioteknologi) memang sangat dibutuhkan untuk mendorong agar hasil pertanian bisa semakin meningkat,” ujarnya saat ditemui di ruang kerja, Gedung Nusantara Lt. 23, Senayan, Selasa (18/11). Sulaeman menjelaskan, sebetulnya tanpa menggunakan pestisida pun petani bisa menghasilkan produk yang baik, yakni dengan model pertanian terpadu. Dia lalu mengisahkan pengalamannya menerapkan pertanian terpadu, dengan memadukan pertanian dan peternakan. “Beberapa tahun lalu, ini (pertanian terpadu) pernah saya lakoni dengan mengunakan sisa kotoran kambing yang saya pelihara, diolah menjadi pupuk kepada sayuran yang juga ditanam dalam satu lahan. Hasilnya  sangat baik ternyata. Saat itu banyak diminati rumah makan yang menjadi supplier saya,” ungkap Sulaeman. Lebih lanjut, anggota Fraksi NasDem ini melihat pemanfaatan bioteknologi memang bukan perkara mudah, mengingat banyaknya faktor pendukung diperlukan untuk realisasinya. Salah satu faktor pendukung yang dominan, yaitu kesungguhan dan keseriusan pemerintah. Tapi Sulaeman paham, bahwa proses menuju pemanfaatan bioteknologi memang perlu tahapan, apa lagi jika mengingat bahwa pemerintahan lama belum memulai inisiatif itu. Pemerintah sekarang ini, masih dalam tahap berupaya memahamkan para petani tentang kebutuhan bioteknologi. Di sisi lain, Sulaeman tetap optimistis atas masa depan pertanian dan pemanfaatan bioteknologi di Indonesia. Apalagi, Presiden Jokowi memiliki perhatian serius terhadap sektor pangan, dan menargetkan swasembada pangan dalam dua tahun kedepan. Dalam hemat Sulaeman, upaya penggunaan bioteknologi adalah salah satu tahapan yang tak mustahil akan ditempuh pemerintah. “Kesungguhan dari pemerintah menjadi modal utama. Apalagi dalam kampanye yang lalu Presiden Jokowi sudah menyatakan keberpihakannya terhadap petani. Maka pengunaan bioteknologi dalam tahapan selanjutnya, insya Allah bisa terwujud tinggal tunggu waktunya saja,” ungkap legislator dari Papua ini. Sulaeman meyakini bahwa langkah pemerintah akan didukung seluruh anggota Komisi IV DPR melalui Kementerian Pertanian selaku mitra kebijakannya. Jika memang Menteri Pertanian membuat skema kebijakan menuju pemanfaatan bioteknologi, menurutnya Komisi IV akan mendukung penuh. Anggota Komisi IV DPR lainnya, Hamdani menyampaikan hal senada. Dia mencontohkan pengalaman negara lain, di mana ketersediaan lahan tak begitu sebesar, tapi masih bisa berswasembada pangan lantaran didukung bioteknologi. Dia juga menekankan perlunya keseimbangan antara penerapan teknologi dengan kapasitas sumber daya manusinya, khususnya para petani. “Sumber daya manusia juga harus ditingkatkan, karena bercocok tanam yang  diketahui petani saat ini masih bentuk konvensional seperti penggunaan alat traktor, menggunakan irigasi,” urai Hamdani saat ditemui di ruang kerja, Gedung Nusantara I, Rabu (18/11). Untuk itu, Hamdani menilai pentingnya jajaran penyuluh pertanian yang handal dan mumpuni, yang tak sekedar memberi alat pertanian saja. Keberadaan mereka sangat penting dalam mentransformasikan pengetahuannya terkait varietas hibrida serta varietas lain hasil dari rekayasa genetika. Hamdani yakin, upaya pemanfaatan bioteknologi di Indonesia sangat besar kemungkinannya untuk terwujud dalam pemerintahan Jokowi-JK. “Yang penting ada itikad dari Pemerintah menuju arah sana.  Kalau ini juga bisa menguntungkan petani, kenapa tidak? Apalagi ada niatan Presiden, di mana dua tahun ke depan  Indonesia menargetkan untuk swasembada pangan. Maka untuk mempercepat terwujudnya niatan itu, saya kira sangat perlu juga ada terobosan bioteknologi ini,” pungkas legislator dari Kalimantan Tengah ini.