DPR Apresiasi Itikad Jokowi Kurangi Hegemoni Dollar

19 NOVEMBER 2015, 00:08:01 WIB 3 MENIT BACA 1170
  Jakarta – Di Forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 minggu kemarin (15/11), Presiden Jokowi mengatakan ketergantungan terhadap mata uang Amerika (Dollar AS) berpotensi mengancam pertumbuhan ekonomi global. Anggota Komisi XI DPR RI Donny Imam Priambodo menilai pernyataan Presiden tersebut wajar jika mengingat besarnya dominasi dollar AS dalam peredaran uang dunia. Saat ini, tutur Donny, 60% transaksi moneter dunia baik di negara maju mau pun negara berkembang menggunakan dollar AS sebagai alat tukar. Salah satu aktivitas ekonomi dunia yang sangat besar, yaitu impor minyak juga tidak lepas dari peran mata uang Paman Sam tersebut. Dengan gambaran kondisi itu, sebenarnya saat ini sangat sulit berupaya menandingi dominasi mata uang US Dollar. “Apalagi saat ini hanya beberapa mata uang saja yang telah menjadi global reserve currency, semisal Yen dan Euro, yang posisinya pun masih jauh di bawah US Dollar, hanya kisaran 30-40 persen dalam peredaran mata uang dalam transaksi moneter international,” ujarnya saat ditemui di ruang Komisi XI, Gedung Nusantara I, Selasa (17/11). Dalam amatan Donny, dominasi dan ketergantungan terhadap mata uang Amerika ini hanya bisa dipatahkan oleh negara besar juga yang memiliki cadangan devisa dan simpanan emas yang besar. Dalam konstelasi ekonomi global saat ini, potensi sebagai penantang itu hanya dimiliki oleh Republik Rakyat Tiongkok (China). “Hanya Chinalah yang saat ini mampu menandinginya, dengan potensi cadangan devisa dan simpanan emas yang besar. Jika mau menggeser itu (US Dollar) ya harus menggeser Amerikanya. Maka bagi negara lain yang tidak memiliki kekuatan devisa dan simpanan emas, akan sangat sulit melawan hegemoni kekuatan US Dollar,” terangnya. Lebih lanjut Donny menjelaskan, dominasi Dollar AS hanya bisa dikikis dengan adanya mata uang yang bisa menjadi pembanding Dollar AS. Hanya saja, saat ini belum ada mata uang dari negara mana pun bisa menggesernya. Mata uang Yuan atau Renminbi China, yang potensial menjadi pembanding dan penyeimbang Dollar AS, menurut Donny, masih terhambat terkait posisinya sebagai alat tukar internasional. Keinginan China untuk memasukkan Yuan dalam daftar Special Drawing Right (SDR) atau mata uang internasional, belum kunjung diumumkan oleh International Monetary Fund (IMF). Terlepas dari semua itu, Donny tetap mengapresiasi pernyataan Presiden Jokowi yang bermaksud mengurai ketergantungan global pada satu mata uang, khususnya Dollar AS. “Kita sepakat agar tidak ada hegemoni suatu negara kepada negara lain, terutama terkait ketergantungan terhadap US Dolar ini. Setidaknya,  sekali pun  saat ini sulit merubah posisi itu, yang terpenting Presiden kita sudah berani mengungkapkannya,” tegas Donny. Donny juga mengingatkan bahwa untuk mengimplementasikan hal itu tidaklah mudah. Amerika sebagai negara adikuasa, pasti juga ingin tetap mempertahankan dominasinya. Untuk kepentingan itu, mereka akan gunakan berbagai cara, salah satunya dengan memposisikan para personalnya di berbagai lembaga moneter internasional seperti IMF. Dengan begitu, mereka akan terus berusaha menghambat rencana China untuk mengimbangi posisi ekonomi Amerika. “Bagaimana juga, sekarang ini bukanlah zaman perang dengan peluru. Perang dalam dominasi ekonomi juga sudah berlangsung,” tuturnya.