JAKARTA (16 November): Masih banyak desa di luar Pulau Jawa (termasuk Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra) yang belum menikmati listrik. Termasuk kondisi desa-desa di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Hal tersebut disampaikan anggota Komisi XII DPR RI Gulam Mohamad Sharon dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII dengan Plt Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, di Gedung Nusantara I Senayan Jakarta, Kamis (13/11/2025).Ia mendorong percepatan program elektrifikasi di wilayah perbatasan karena terjadi kesenjangan ketersediaan listrik yang mencolok dengan negara tetangga.Dalam rapat tersebut, Gulam menceritakan kondisi desa-desa di daerah pemilihannya yang berbatasan langsung dengan Malaysia."Malaysia yang jaraknya hanya sekitar 8-10 km itu sudah terang-benderang. Tapi di tempat kami, tempat kita di Indonesia, masih gelap gulita," ujar Gulam. Oleh karenanya, legislator NasDem dari Dapil Kalimantan Barat II (Kabupaten Kapuas Hulu, Melawi, Sanggau, Sekadau, dan Sintang) itu terus mendorong percepatan program elektrifikasi di wilayah perbatasan. Ia menyoroti kesenjangan ketersediaan listrik yang mencolok dengan negara tetangga.Gulam juga menyampaikan keluhan ASN (Aparatur Sipil Negara) di daerah perbatasan. Salah satunya keluhan ibu-ibu ASN yang harus bekerja dari pukul enam sore hingga enam pagi, akibat listrik yang hanya bisa digunakan pada waktu-waktu tersebut."Proyek elektrifikasi harus segera dieksekusi, terutama untuk proyek-proyek skala kecil yang hanya membutuhkan investasi dalam skala satu megawatt atau dua megawatt, yang bisa melibatkan pengusaha lokal. Jangan sampai kita mau listriknya cepat, tapi di tempat Bapaknya (Kementerian ESDM) sendiri prosesnya lama. Jadi prosesnya seperti apa, caranya kayak gimana, supaya listrik ini bisa tercapai dan bisa dinikmati masyarakat dengan cepat," tuntutnya, seraya berharap proses pengajuan tidak memakan waktu hingga satu tahun. (dpr.go.id/*)