Oleh Wawan Gunawan* Indonesia merupakan negeri yang besar. Terdiri dari 17.504 pulau, 10.068 suku, 615 bahasa, 300 gaya seni tari, dan 485 lagu daerah, serta entah berapa sistem kepercayaan dan agama yang diyakini dan dianut oleh para penduduknya. Dengan demikian, Indonesia merupakan negeri yang multikultural. Dalam negeri yang seperti ini, keberagaman adalah suatu keniscayaan. Pertanyaan yang penting bagi kita selanjutnya adalah, apakah kenyataan yang tidak bisa ditolak itu akan disyukuri atau disesali. Secara teoretis kita menerima banyak perbedaan di antara sesama anak bangsa. Karena itu kita menyepakati Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai falsafah hidup bersama. Tetapi dalam kenyataan, betapa banyak sebagian dari kita yang sepertinya menyesali hal beragam yang seharusnya disyukuri itu. Lihat saja, bagaimana mungkin kita disebut bangsa yang berbhineka tunggal ika, jika angka konflik antarumat beragama semakin menanjak? (lihat survey yang dilakukan oleh Setara Institute, pada tahun 2007 – 2013 ). Dan yang patut dikhawatirkan, Jawa Barat, provinsi yang notabene dekat dengan ibu kota malah merupakan provinsi terbesar bagi bersemainya konflik tersebut. Oleh karena itu, tantangan bagi bangsa Indonesia yang paling kontekstual adalah masalah melemahnya pemahaman warga terhadap falsafah hidup bersama (baca: Pancasila). Sebagian kalangan yang semakin berpikir sektarian tanpa memedulikan adanya penganut keyakinan lain di luar dirinya sendiri, adalah satu di antaranya. Cara pandang yang seperti ini adalah cikal dari fenomena munculnya kelompok intoleran yang mengatasnamakan agama tertentu, dan mengganggu kedaulatan bangsa Indonesia sebagai negara kesatuan. Pada tingkat yang paling parah, hal ini ditunjukkan dengan berbagai aksi kekerasan, yang lebih kita kenal dengan sebutan terorisme. Fenomena ISIS Belakangan ini dunia ramai oleh perbincangan mengenai ISIS: Islamic State of Irak and Syiria. Kelompok ini memiliki interpretasi yang keras mengenai Islam, sehingga membuat mereka kerap melakukan aksi kekerasan, seperti bom bunuh diri, pembunuhan massal, penculikan, hingga penembakan wartawan. Di Irak dan Suriah mereka telah menewaskan ribuan orang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut, lebih dari 2.400 warga sipil Irak tewas sepanjang Juni 2014. Peristiwa ini telah menyebabkan tak kurang dari 30.000 warga kota kecil di timur Suriah harus mengungsi. Tokoh Sentral ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, bersumpah untuk memimpin penaklukan Vatikan di Roma Italia, selain juga menyerukan umat Islam agar tunduk kepadanya. Awalnya, ISIS merupakan bagian dari Front Al Nusra, kelompok yang menyatakan diri sebagai satu-satunya afiliasi al-Qaida di Suriah. Namun, pada tahun 2014 karena adanya konflik internal, al-Qaida tidak mengakui kelompok ini sebagai bagian darinya lagi. Dewan Keamanan PBB telah menetapkan ISIS sebagai organisasi teroris. Diikuti beberapa negara lainnya yang memberi penilaian sama. Amerika, Inggris, Saudi Arabia, Canada, Australia, dan termasuk Indonesia. Gerakan ISIS di Indonesia Hingar bingar ISIS tidak hanya terjadi di Timur Tengah. Ternyata ISIS sudah menjalar hingga ke Indonesia, terutama di pulau Jawa. Sebagaimana dilansir oleh Merdeka.com, sebelum dinyatakan terlarang, aksi dukungan terhadap ISIS marak di Malang, Jawa Timur dan Solo, Jawa Tengah. Bahkan sekelompok warga Indonesia telah muncul dalam sebuah video perekrutan yang dirilis kelompok ISIS, mendesak agar umat Islam di Indonesia bergabung dengan perjuangan mereka. Video itu memperlihatkan seorang pria Indonesia bernama Abu Muhammad al-Indonesi, tengah memberikan pesan untuk bergabung dengan ISIS. Aksi ajakan ini beredar di media jejaring sosial. Bahkan, beberapa waktu lalu sempat heboh kemunculan foto anak-anak Indonesia berpose dengan bendera ISIS. Dalam foto itu, dua bocah menggenggam pistol mainan dengan background dinding bertuliskan, "Untuk para pahlawan kami di ISIS. Kami anak-anakmu dan pendukungmu dari Indonesia. Jayalah ISIS." (Merdeka.com) Menurut Joko Tri Haryanto, dari Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang, gerakan mendukung ISIS di Indonesia, khususnya Jawa Tengah, sudah terstruktur. Pendapat itu didasarkan pada hasil penelitiannya mengenai gerakan Islam radikal, khususnya pendukung ISIS di Solo, Jawa Tengah, belum lama ini. Gerakan pendukung ISIS tersistematis dalam kelompok strategis di kalangan kampus, dan dengan mudah menggunakan sarana keagamaan, seperti masjid. Hal itu dibuktikan secara langsung olehnya saat mengunjungi sebuah masjid di Kampung Kratonan Solo, di mana seorang khatib salat Jumat secara terbuka menyatakan dukungan kepada ISIS (Tempo, 15 Agustus 2014). Semangat Gerakan Islam Trans Nasional di Indonesia ISIS bertujuan mendirikan negara Islam. Mulanya lahir di wilayah Timur Tengah. Mereka hendak menaklukkan dan menyatukan wilayah Suriah, Irak, Mesir, Lebanon, Jordania, dan Israel menjadi negara kesatuan di bawah bendera khilafah, sebuah kerajaan yang menerapkan hukum Islam secara penuh dalam menjalankan pemerintahan negara. Bukan tidak mungkin, penaklukan demi penaklukan akan dilanjutkan ke seluruh penjuru dunia. Dalam hal perekrutan anggota, ISIS mengambil orang-orang yang memiliki pemahaman sama dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sebagaimana telah disebutkan di atas, tidak sedikit orang Indonesia yang terkesima oleh gerakan ini. Apa yang membuat ide tentang pendirian negara Islam di Irak dan Suriah tiba-tiba ikut laku dipasarkan di Indonesia? Fenomena seperti ini sebetulnya telah disinyalir oleh Presiden Indonesia ke-4, mendiang KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur melalui buku berjudul Ilusi Negara Islam. Dalam buku tersebut dikemukakan, munculnya gejala radikalisme keagamaan di Indonesia akhir-akhir ini adalah adanya faham radikalisme dengan menggunakan kendaraan gagasan trans nasional, yakni pandangan mengenai solidaritas keagamaan (Islam) pada level dunia dengan mengenyampingkan sensitivitas-sensitivitas lokal. Mereka membayangkan bahwa seluruh umat Islam di mana pun harus tunduk patuh pada sistem kekhalifahan yang berlaku secara agama dan politik bagi seluruh dunia. Tidak ada lagi batas-batas negara seperti sekarang ini. Tidak ada lagi khazanah dan ekspresi Islam lokal. Semuanya diharuskan manut kepada Islam yang dianggap sebagai pusat. Dan yang mereka sebut pusat itu adalah Timur Tengah. Sehingga pada ekspresi kebudayaan, ekonomi, ideologi, politik, dan lain sebagainya harus serba mirip mereka, serba Arab. Tidak ada nasionalisme keindonesiaan, kemalaysiaan, kephilipinaan, dan seterusnya. Semuanya berada di bawah satu payung: kekhalifahan Islam. Tidak ada nasionalisme, yang ada adalah trans nasionalisme. Gerakan trans nasionalisme ini cenderung membawa pemahaman Islam yang radikal. Mereka membawa konflik yang terjadi di dunia Arab ke Indonesia. Karena Arab menjadi sentral, wilayah-wilayah lainnya jadi nampak tidak penting. Oleh karenanya mereka relatif menolak khazanah lokal. Bagi mereka, ekspresi Islam yang tumbuh di wilayah lokal selain negara mereka, tidak valid. Mereka kemudian menjajakan ide otentifikasi Islam. Mereka menyebut, Islam yang otentik itu adalah Islam dengan gaya mereka. Pada saat ada orang Islam lain yang tidak serupa dengan mereka, disebutlah sebagai tidak otentik, tidak islami, bid’ah, sesat, kafir, dan lain sebagainya. Cara berpikir mereka juga sangat hitam putih. Dalam hidup itu hanya ada dua hal: otentik dan tidak otentik; muslim atau kafir; negara Islam atau negara thaghut; surga atau neraka; sesat atau tidak sesat; dan seterusnya. Cara pandang seperti ini pada gilirannya tidak menganggap orang lain itu wajib dihargai, karena yang benar hanya diri dan kelompoknya saja. Wawasan Islam lokal sebagai terapi terhadap serangan ideologi ISIS Orang Islam Indonesia yang tergoda oleh ISIS adalah orang Indonesia yang tidak menyadari keindonesiaannya. Dia lebih merasa memiliki solidaritas dengan bangsa-bangsa lain dengan alasan satu agama, satu aqidah. Tetapi apakah mereka sadar, pada saat suatu hari nanti dia sakit atau meninggal, apakah jenazahnya akan diurus oleh orang Irak? Pasti tetangganya terlebih dahulu yang menengok dia dibanding dengan orang-orang ISIS di Irak atau Suriah. Islam memang mengajarkan bahwa kaum muslimin yang ada di belahan dunia lain sebagai saudara satu tubuh. Jika yang satu sakit, maka yang lainnya pun turut sakit. Tetapi Islam juga mengajarkan agar kita mencintai tanah air, lingkungan di mana tempat kita tinggal. Lagi pula, konflik di Timur Tengah itu belum tentu konflik agama. Konflik yang berlangsung di timur Tengah sepenuhnya adalah konflik politik. Konflik perebutan wilayah. Kenapa kita harus turut repot ikut campur pada konflik orang lain, sedangkan di Indonesia sendiri banyak permasalahan yang menuntut harus segera diselesaikan? Oleh karenanya, KH. Ahmad Siddik dari Nahdatul Ulama pernah mengemukakan konsep mengenai ukhuwah islamiah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah bashariah. Artinya, persaudaraan sesama orang Islam, sesama bangsa, dan sesama manusia. Dalam konteks ukhuwah wathaniyah (persaudaraan antarsesama anak bangsa) inilah kita wajib mencintai Indonesia. Karena seseorang misalnya, tidak hanya 100% Islam, tetapi juga 100% Indonesia. Keindonesiaan dan keislaman melekat secara bersamaan pada diri seseorang. Seperti juga yang pernah dikemukakan oleh Romo Mangun, “Saya ini 100% Katolik, sekaligus 100% Indonesiaâ€Â. Dengan pemahaman seperti ini seharusnya kita tahu bahwa konteks Islam di Timur tengah tentu berbeda dengan Islam di Indonesia. Bagi orang Islam di Indonesia tidak perlu lagi mendirikan negara Islam, apalagi ikut merger kepada ISIS, karena tafsir Islam di Indonesia adalah tafsir Islam yang mampu mengakomodir keberagaman. Oleh karenanya, Islam berkembang di Indonesia dengan variannya masing-masing sebagai: Islam Sunda, Islam Jawa, Islam Padang, Islam Bugis, dan seterusnya. Tidak hanya itu, sebagai orang Islam yang tumbuh di Indonesia, seharusnya menyadari bahwa bangsa ini terdiri juga dari penganut agama selain Islam. Dengan demikian Islam Indonesia adalah Islam yang menyadari bahwa dirinya memiliki tetangga yang berbeda agama dengan dirinya, dan harus saling menghormati. Sikap orang indonesia yang sanggup menerima keberadaan orang lain yang berbeda itulah yang disebut dengan Pancasila dan Bhineka tunggal Ika. Karena sudah memiliki falsafah adiluhung itu, kita, orang Indonesia, sangat tidak memerlukan yang namanya ISIS dan sebangsanya. *Penulis adalah Tenaga Ahli Fraksi Partai NasDem, fokus di Komisi VIII