Perempuan Badja dan Aktivis Perempuan Bicara Dampak Relokasi Bagi Kesehatan Perempuan

18 JANUARI 2017, 10:26:05 WIB 3 MENIT BACA 1019
Jakarta - Banjir adalah salah permasalahan serius yang selama ini menghantui Ibukota Jakarta. Hampir setiap tahun masalah ini dialami oleh warga DKI. Namun sejak kepemimpinan Jokowi pada 2012 lalu dan dilanjutkan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, masalah ini mulai teratasi. Hampir tidak ada banjir berarti yang terjadi sejak tahun 2016 kemarin. Diksusi Kita AdjeHal ini tidak lepas dari beberapa kebijakan Ahok terkait masalah ini. Salah satunya adalah normalisasi sungai. Terbukti, kebijakan ini ini sangat berpengaruh terhadap menurunnya masalah banjir di Ibukota. Namun demikian, masalah tidak berhenti di situ. Ada efek yang ditimbulkan dari normalisasi ini, yakni relokasi warga. Harus diakui, sampai saat ini masih banyak pihak yang menentang kebijakan Ahok yang satu ini. Oleh karena itu Relawan Perempuan Badja mengadakan kegiatan "Diskusi Kita" di Cilandak Town Square, Selasa (17/1). Menurut Wakil Sekretaris Pemenangan Tim Badja Virgie Baker sekaligus salah satu pengagas kegiatan diskusi, bicara relokasi semestinya tidak selalu membicarakan untung dan rugi material semata. Akan tetapi, relokasi harus dilihat dari perspektif perempuan dan anak. “Makanya dalam diskusi kali ini, mengangkat terkait dampak positif yang dirasakan dari relokasi bagi perempuan. Bayangkan, mereka pada awalnya tinggal di lingkungan yang tidak layak, kotor dan tidak jarang juga bisa memabahayakan jiwa mereka," ungkapnya retorik. Virgie melanjutkan, Ahok dan Djarot telah membawa dan mengajak mereka untuk Virgie1relokasi ke rumah susun yang tertata rapi dan menyediakan segala sarana dan prasana yang lebih manusiawi. Dengan kondisi yang demikian, warga tidak ada lagi yang terkena penyakit malaria dan penyakit kulit yang disebabkan oleh air sungai yang kotor. “ya untuk mulai dari cuci, mandi serta buang hajat semuanya di situ dan dilakukan bertahun-tahun dilakukan,”tutur lulusan sastra Jepang Universitas Indonesia (UI) ini. Alumnus Sastra Jepang Universitas Indonesia ini melanjutkan, dampak positif ini harus dijelaskan kembali kepada mereka bahwa dengan adanya relokasi ini, diharapkan bisa membuat perempuan dan anak-anak bisa menatap kehidupan ke depannya dengan lingkungan yang sehat dan asri. “Hal-hal seperti itulah harus kita sampaikan kepada mereka. Tidak hanya itu, ternyata dengan relokasi ini juga bisa mencegah timbulnya kanker serviks. Dikarenakan kini para perempuan yang direlokasi ke rumah susun sudah melakukan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) dengan air bersih, sehingga kebersihan tubuh dan daerah kewanitaannya terlindungi. Patut juga dicatat, bahwa kehidupan masyarakat Jakarta yang telah direlokasi ke rumah susun sudah meningkat cukup drastis kehidupannya, baik dari sisi kesehatan dan kenyamanan bertempat tinggal,” jelasnya. Virgie menambahkan, hasil diskusi yang berseri ini nantinya akan menjadi perangkat dan materi bagi jaringan relawan perempuan Badja untuk disampaikan kepada seluruh pemilih perempuan Jakarta terkait keberhasilan program yang telah dilakukan oleh Ahok-Djarot selama kurun waktu dua tahun ini.