Jakarta – Ketua DPR Setya Novanto dicap tengah memainkan psikologi massa dengan memainkan peran sebagai pihak yang terzalimi dalam kasus pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden. Dalam satu kesempatan, Setya misalnya, menyatakan akan memaafkan Menteri ESDM Sudirman Said yang dianggapnya telah lalai. “Mungkin Pak Sudirman ada hal-hal yang khilaf atau apapun,†ucapnya, seperti dikutip sebuah media hari ini, Rabu (25/11). Hal ini seperti dinyatakan oleh Wakil Ketua Fraksi NasDem Luthfi Mutty. Baginya, apa yang tengah diperagakan oleh Setya hanyalah upaya memainkan psikologi masyarakat Indonesia. “Rupanya (Setya) sangat memahami psikologi masyaraakt Indonesia sebagai romantic society. Psikologi massa seperti ini selalu cenderung membela org yang terzalimi. SN mencoba memainkannya,†ungkap Luthfi lewat pesan singkatnya, Rabu (25/11). Namun demikian Luthfi yakin bahwa masyarakat sudah kian cerdas. Mereka tidak akan termakan dengan umpan-umpan seperti itu. Bagi legislator asal Sulawesi Selatan ini, skandal ini sebenarnya tidak cukup hanya dibawa ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Dalam pandangannya, kasus ini juga harus diproses secara hukum agar ada kepastian hukum apakah perbuatan Setya Novanto salah atau tidak sehingga patut dihukum. Oleh karena itu, secara moral, Setya harusnya mundur sebagai Ketua DPR. “SN harus mundur sbg bentuk pertanggungjawaban publik atas tindakannya melakukan hal2 di luar tugas dan fungsinya sbg anggota legislatif, yaitu anggaran, legislasi, dan pengawasan,†tegasnya. Saat ini, kasus ini tengah diproses oleh MKD dan akan disidangkan mulai Senin (30/11) mendatang. Dijadwalkan, sidang ini akan dilakukan secara terbuka.