JAKARTA (19 Desember): "Gerakan-gerakan ekstraparlementer untuk mewujudkan tujuan politik sekelompok orang sesungguhnya adalah tindakan membuang energi secara percuma," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (19/12) menanggapi adanya aksi demonstrasi yang masih saja berlangsung. Menurut Lestari, para pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, telah bersepakat memilih sistem demokrasi untuk menyalurkan aspirasi dalam proses bernegara. "Sistem demokrasi yang kita sepakati bersama dirancang mampu mengakomodasi aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat. Masyarakat bisa mengekspresikan aspirasi atau kepentingannya melalui mekanisme yang ada, termasuk pemilihan umum legislatif dan Presiden yang dilaksanakan secara langsung, jujur, dan transparan setiap lima tahun,†ujar Rerie, sapaan akrab Lestari. Menurut anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem itu, sejak 2004, Indonesia telah memilih Presiden/Wapres, anggota DPR, dan para pemimpin daerah melalui mekanisme pemilihan langsung dalam sistem demokrasi yang telah menjadi kesepakatan bersama. Dengan demikian, ujar Legislator NasDem itu, masyarakat yang memiliki aspirasi dan kepentingan tertentu sebaiknya mengekspresikan melalui mekanisme tersebut daripada melakukan gerakan-gerakan ekstraparlementer. Menurut Rerie, adanya gerakan ekstraparlementer saat ini, bisa saja terjadi sebagai akibat dari pemikiran adanya kegagalan partai politik dalam mengartikulasikan aspirasi sekelompok masyarakat itu dalam sistem demokrasi. Namun, kata anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, sebaiknya kelompok masyarakat yang tidak puas dapat menempuh mekanisme secara konstitusional. Apabila tidak puas dengan partai politik yang ada, tegas Rerie, masyarakat dipersilahkan mendirikan partai politik baru sebagai cara penyaluran aspirasi melalui mekanisme yang benar dan sesuai sistem yang berlaku. Termasuk juga tentunya menyampaikan ketidaksetujuan dalam menyikapi masalah. Wakil rakyat dari dapil Jawa Tengah II (Kudus, Jepara, Demak) itu juga berpendapat, kerumunan massa yang terjadi ketika gerakan-gerakan ekstraparlementer digelar, dalam kondisi dan situasi pandemi seperti saat ini memiliki potensi penyebaran virus korona yang tidak boleh dipandang remeh. "Seharusnya semua pihak dapat bersikap secara arif dan bijaksana, apalagi angka penyebaran masih terus meningkat. Hendaknya kita sadar bahwa tindakan tersebut dapat membahayakan orang lain," ujarnya.[*]