JAKARTA (16 Desember): Sepanjang 2020 adalah tahun yang berat dengan banyak perubahan sehingga memaksa kita untuk menjadi manusia pembelajar agar mampu melewatinya. "Banyak catatan pada tahun ini yang bisa diambil sebagai hikmah. Mudah-mudahan dengan ditemukan vaksin Covid-19 kita bisa segera bangkit," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat membuka diskusi bertema Refleksi Akhir Tahun 2020 (Merangkum dan Mencari Hikmah dari Peristiwa untuk Bangsa) secara daring yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (16/12). Diskusi yang dimoderatori Arief Adi Wibowo (pengajar di Universitas Indonesia) itu menghadirkan Komaruddin Hidayat (Guru Besar, pendidik), Ali Masykur Musa, (Ketua Umum Ikatan Sarjana NU), Romo Haryatmoko, SJ (Budayawan/Filsuf) dan Connie Rahakundini Bakrie (Akademisi dan pengamat pertahanan keamanan) sebagai narasumber. Selain itu, juga hadir Sunanto (Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah) dan Suyoto (Ketua Bidang Kebijakan Publik dan Isu Strategis DPP Partai NasDem) sebagai penanggap. Karena banyak terjadi perubahan, menurut Lestari, masyarakat Indonesia harus siap berubah dan bisa menerima norma-norma baru. Di masa pandemi Covid-19 ini, jelas Rerie, sapaan akrab Lestari, masalah kemanusiaan adalah yang utama untuk diperhatikan. Menghadapi kondisi saat ini, Legislator Partai NasDem itu mengajak semua pihak berpikir untuk menyikapi sejumlah perubahan dengan terus belajar. Ali Masykur Musa menilai peristiwa sepanjang 2020 di Tanah Air dipicu sejumlah langkah yang kurang tepat dalam penanganan penyebaran virus korona. Mulai dari ketidakpercayaan ada virus korona di awal pandemi, yang akibatnya hingga saat ini pemerintah masih kesulitan mengendalikan penyebaran Covid-19. Dampak kegagapan dalam menyikapi ancaman awal Covid-19, jelas Ali Masykur, menciptakan masalah lainnya. Menurut dia, yang dibutuhkan dalam menghadapi sejumlah dampak yang ditimbulkan dalam penanganan Covid-19 adalah komitmen bersama dari masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk membangun ketahanan bangsa di sisi ideologi, politik dan ekonomi. Sedangkan Komaruddin Hidayat menilai dari sisi pendidikan yang muaranya adalah kebudayaan, sepanjang tahun ini yang terlihat adalah masyarakat Indonesia mudah sekali berpikir negatif dan saling curiga terhadap orang lain. Yang dibutuhkan pemerintah di era disrupsi ini, menurut Komaruddin, kejelasan dalam penerapan sejumlah kebijakan yang dibuat. Sementara itu pengamat pertahanan keamanan, Connie Rahakundini Bakrie menilai hampir semua yang terjadi pada 2020 di Tanah Air berpangkal pada dua hal. Yaitu penanganan Covid-19 dan ketidakmampuan kita mengatasi dampak Covid-19. Connie menilai dalam menghadapi ancaman Covid-19 pemerintah terkesan tidak memiliki intelijen yang baik, sehingga yang terlihat adalah kegagapan di awal penanganan. Yang menjadi dasar kebijakan untuk mengatasi ancaman Covid-19, menurut Connie, seharusnya adalah keselamatan rakyat menjadi hukum tertinggi. Selain itu, jelasnya, penanganan Covid-19 itu membutuhkan penanganan lintas sektor (kementerian dan daerah) yang terpadu. Sedangkan upaya mengatasi pandemi Covid 19, tambah Connie, dengan strategi menghadapi perang hampir sama. Romo Haryatmoko SJ berpendapat yang dibutuhkan saat ini adalah bagaimana kita mengembangkan bentuk-bentuk solidaritas, semangat toleransi dan upaya pencegahan korupsi. Situasi pandemi yang semakin sulit ini, menurut Romo, seharusnya menuntut semua elemen untuk berkomitmen lebih kuat lagi untuk mengatasinya dengan semangat kebersamaan.[*]