Perempuan Indonesia Berpotensi Lakukan Perubahan

17 DESEMBER 2020, 09:14:00 WIB 2 MENIT BACA 897
Perempuan Indonesia Berpotensi Lakukan Perubahan

JAKARTA (17 Desember): Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengajak perempuan bergerak bersama, melahirkan terobosan sesuai konteks dan peluang yang ada untuk menjawab tantangan di masa kini dan mendatang.

"Kita membutuhkan langkah besar untuk sebuah lompatan besar demi memperjuangkan hak-hak perempuan agar setara. Bercermin dari sejarah, perempuan telah melakukan langkah besar melalui ide dan kerja nyata," ujar Lestari Moerdijat saat membuka secara daring acara LEAP Virtual SUMMIT 2020, Kamis (17/12).

Menurut Rerie, panggilan akrab Lestari, hal yang sangat membanggakan pada masa pandemi ini adalah secara nyata kalangan perempuan menunjukkan peran serta yang signifikan.

Setidaknya, jelas Legislator Partai NasDem itu, ada tujuh perempuan kepala negara yang dipuji karena mengelola pandemi Covid-19 dengan baik.

Mereka adalah Mette Frederiksen (Denmark), Kartin Jakobsdottir (Islandia), Sanna Marin (Finlandia), Angela Merkel (Jerman), Jacinda Ardern (New Zealand), Erna Solberf (Norwegia) dan Tsai Ing-wen (Taiwan).

Walaupun semua negara masih berhadapan dengan wabah, tambah Rerie, ke tujuh perempuan pemimpin itu mampu menekan angka kematian karena Covid 19 di negara masing-masing.

"Kata dan tindakan para perempuan pemimpin itu memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakatnya," ujar Legislator Partai NasDem itu.

Memperhatikan beragam peran perempuan di Indonesia dalam menghadapi dinamika dan tantangan zaman, menurut anggota Komisi X  DPR RI itu, Indonesia juga sarat dengan perempuan yang membawa perubahan.

Antara lain, jelasnya, Ratu Shima di Kerajaan Kalingga yang mengagumkan dengan pemerintahan terbuka, mengadopsi sistem pertanian dan menjadikan Kalingga bersinar emas penuh kejayaan.

Kemudian Ratu Kalinyamat (Retna Kencana) dari Jepara, Jawa Tengah, puteri Sultan Trenggono yang berhasil membangun armada laut terkuat yang mampu melawan kolonialisasi Portugis.

Selanjutnya Keumalahayati, perempuan dari Kesultanan Aceh yang mendapat gelar Laksamana saat memimpin 2000 pasukan Inong Balee (janda para pahlawan) dan membunuh Cornelis de Houtman.

"Perempuan Indonesia di setiap masa menorehkan sejarah, leadership legacy (warisan kepemimpinan) yang tak hanya mengagumkan tetapi juga menginspirasi," ujar Rerie.

Karena itu, tegas wakil rakyat dari dapil Jateng II (Demak, Kudus, Jepara) tersebut, memberi ruang bagi perempuan-perempuan Indonesia untuk bergerak, menjadi pemimpin dan melakukan perubahan adalah potensi bangsa yang harus terus diwujudkan.[*]